Majelis Umum PBB Sahkan Barham Salih sebagai Kepala UNHCR Baru

Diedit oleh: gaya ❤️ one

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara bulat mengesahkan mantan Presiden Irak, Barham Salih, sebagai Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) yang baru. Keputusan ini dikonfirmasi oleh Ketua Majelis Umum Annalena Baerbock pada Kamis, 18 Desember 2025, di Markas Besar PBB. Penunjukan ini menandai penunjukan pejabat pertama dari kawasan Timur Tengah untuk memimpin badan krusial tersebut sejak akhir dekade 1970-an.

Salih, yang kini berusia 65 tahun, dijadwalkan memulai masa jabatan lima tahunnya pada 1 Januari 2026. Ia menggantikan Filippo Grandi dari Italia, yang telah menjabat sejak awal tahun 2016 hingga pengujung 2025. Penunjukan ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan global yang mencapai titik ekstrem, dengan catatan 117,3 juta orang terusir secara paksa pada akhir tahun 2025, hampir dua kali lipat dari angka lebih dari 65 juta saat Grandi memulai masa baktinya pada 2016. Sebagai informasi, pada akhir Juni 2025, tercatat 117,3 juta individu secara global terusir paksa akibat penganiayaan, konflik, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, atau peristiwa yang secara serius mengganggu ketertiban umum.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang merekomendasikan Salih, menyatakan keyakinan bahwa Salih membawa pengalaman kepemimpinan politik, diplomatik, dan administratif tingkat senior yang substansial. Pengalaman ini mencakup perannya sebagai negosiator krisis dan arsitek reformasi nasional di Irak pasca-2003, termasuk negosiasi Kemitraan Internasional dengan PBB dan Bank Dunia. Salih, seorang politisi Kurdi berpengalaman, juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan dan Wakil Perdana Menteri Irak. Ia juga merupakan seorang Senior Fellow di Belfer Center for Science and International Affairs di Harvard Kennedy School.

Latar belakang pribadi Salih sebagai mantan pengungsi menjadi sorotan dalam dukungannya terhadap isu ini. Pada usia 19 tahun di tahun 1979, ia dilaporkan ditahan oleh Partai Ba'ath sebelum melarikan diri ke Britania Raya untuk menghindari persekusi lebih lanjut. Grandi sendiri memuji Salih, menyatakan bahwa pengalaman pertamanya mengenai tantangan pengungsi akan sangat relevan untuk memimpin UNHCR di tengah kompleksitas krisis saat ini. Salih menekankan bahwa kepemimpinannya akan berlandaskan pada empati dan pragmatisme, seraya menyerukan fokus baru pada akuntabilitas, efisiensi, dan dampak program.

Secara historis, kepemimpinan UNHCR didominasi oleh Eropa sejak pendirian badan tersebut pada tahun 1950. Penunjukan Salih menyoroti signifikansi pergeseran ini, menjadikannya salah satu dari sedikit pemimpin non-Eropa. Meskipun ada optimisme, muncul pula kekhawatiran dari beberapa organisasi advokasi mengenai potensi jebakan kepentingan politik dari negara-negara pendonor besar. Salih menyadari tekanan operasional yang dihadapi UNHCR, terutama karena pemotongan bantuan asing dari donatur utama, termasuk Amerika Serikat, yang telah memaksa badan tersebut melakukan pemotongan anggaran dan pengurangan staf sepanjang tahun 2025.

Dengan mandat baru yang dimulai pada 1 Januari 2026, Salih akan memimpin UNHCR dalam menghadapi tantangan pendanaan yang signifikan. Fokusnya akan diarahkan pada penguatan efektivitas operasional dan pencarian solusi jangka panjang untuk mencegah pengungsian menjadi permanen. Salih meraih gelar Doktor Teknik dalam Statistik dan Aplikasi Komputer dari Universitas Liverpool pada tahun 1987, setelah sebelumnya menyelesaikan gelar sarjana Teknik Sipil dan Konstruksi dari Universitas Cardiff.

25 Tampilan

Sumber-sumber

  • Daily Mail Online

  • Belfer Center

  • Personnel Appointments | António Guterres, Secretary-General

  • UN General Assembly elects former Iraqi president as UN High Commissioner for Refugees

  • The High Commissioner - UNHCR

  • UN elects former Iraqi President to lead UN refugee agency | The Times of Israel

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.