Sebuah satelit Tiongkok, diluncurkan oleh roket Kinetica-1 milik CAS Space pada Dec 9, 2025, melintas pada jarak sekitar 200 meter dari satelit Starlink milik SpaceX beberapa hari kemudian.
Kepadatan Orbit LEO: Peluncuran CAS Space Soroti Risiko Tabrakan dengan Starlink
Diedit oleh: Tetiana Martynovska 17
Orbit Bumi Rendah (LEO) menghadapi peningkatan kepadatan yang mengkhawatirkan, di mana peningkatan peluncuran satelit secara inheren meningkatkan potensi terjadinya tabrakan katastrofik. Situasi ini menonjol setelah insiden pada 12 Desember 2025, di mana sebuah satelit yang diluncurkan oleh perusahaan komersial Tiongkok, CAS Space, nyaris bersinggungan dengan satelit Starlink milik SpaceX.
Roket Kinetica-1 milik CAS Space membawa sembilan satelit dalam misi peluncuran tersebut. Mike Nicolls, Wakil Presiden Rekayasa Starlink di SpaceX, mengonfirmasi bahwa salah satu objek dari peluncuran Tiongkok tersebut melintas dalam jarak kurang dari 200 meter dari satelit STARLINK-6079 pada ketinggian sekitar 560 km. Nicolls secara eksplisit menyatakan bahwa bahaya terbesar muncul dari ketiadaan koordinasi antaroperator di ruang angkasa, menekankan bahwa sebagian besar risiko operasional di orbit berasal dari kurangnya dekonflik antaroperator satelit.
CAS Space menanggapi dengan mengonfirmasi bahwa mereka menggunakan sistem pemantauan internal untuk melacak penghindaran tabrakan dan telah berkomunikasi dengan SpaceX sebelum peluncuran, mengantisipasi potensi insiden setelah satelit terlepas dari roket. Perusahaan Tiongkok tersebut juga mengindikasikan bahwa jika dikonfirmasi, peristiwa tersebut terjadi sekitar 48 jam setelah berakhirnya misi deorbit terjadwal, saat peluncuran dianggap telah selesai. Roket Kinetica-1, yang sebelumnya dikenal sebagai ZK 1A, adalah roket berbahan bakar padat terbesar dan terkuat di Tiongkok saat debutnya pada Juli 2022. CAS Space sendiri adalah penyedia layanan peluncuran komersial yang didirikan pada April 2018 dan mayoritas dimiliki oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.
Masalah ini bersifat sistemik mengingat proyeksi masa depan infrastruktur orbit. Diperkirakan pada akhir tahun 2025, lebih dari 9.300 satelit Starlink akan mendominasi objek aktif di orbit. Data dari tahun 2024 menunjukkan bahwa setiap satelit Starlink melakukan manuver penghindaran tabrakan hampir 300 kali sehari, dua kali lipat lebih sering dibandingkan pada tahun 2023. Para pakar mencatat bahwa pendekatan sangat dekat (kurang dari 1 km pemisahan) terjadi setiap 22 detik di seluruh megakonstelasi, dan untuk Starlink saja, hal ini terjadi setiap 11 menit.
Kekhawatiran para ahli mengenai Sindrom Kessler—sebuah kaskade tabrakan yang dapat menghalangi akses ke ruang angkasa—diperkuat oleh insiden ini. Sindrom Kessler, yang diprediksi oleh Donald J. Kessler pada tahun 1978, menggambarkan skenario di mana kepadatan objek di LEO menjadi sangat tinggi sehingga tabrakan berantai terjadi secara eksponensial, berpotensi membuat wilayah orbit tertentu tidak dapat digunakan selama beberapa generasi. Peningkatan jumlah megakonstelasi seperti Starlink dan rencana Amazon Kuiper meningkatkan risiko pemicu sindrom ini.
Ambisi rencana megakonstelasi terus berlanjut; SpaceX berencana mengerahkan generasi ketiga satelit dengan bantuan Starship pada tahun 2026, sementara Amazon dan Viasat juga secara aktif mempersiapkan jaringan mereka sendiri. Untuk menghindari skenario terburuk ini, diperlukan langkah-langkah yang ditingkatkan, termasuk penyempurnaan sistem penghindaran tabrakan dan, yang paling krusial, pembentukan pertukaran data internasional, seperti 'Space Traffic Coordination API' yang dikembangkan oleh SpaceX. SpaceX, melalui kolaborasi dengan Pusat Penelitian Ames NASA, telah mengembangkan API eksperimental untuk mengelola koordinasi manuver antaroperator, di mana SpaceX biasanya mengambil tanggung jawab manuver jika operator lain membagikan data lintasan prediktif mereka. Seperti yang disoroti oleh Nicolls, jika para operator tidak dapat berkomunikasi secara efektif, 'pendekatan dekat' berikutnya dapat membawa konsekuensi bencana bagi infrastruktur ruang angkasa di masa depan. Kebutuhan akan sistem manajemen lalu lintas ruang angkasa yang terkoordinasi dan terdistribusi menjadi semakin mendesak untuk menjaga keberlanjutan eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa. Hingga penerbangan kedelapannya pada Agustus 2025, Kinetica-1 telah berhasil meluncurkan 70 satelit dengan berat gabungan lebih dari 7 ton metrik.
Sumber-sumber
Universe Space Tech
Universe Space Tech
SpaceX Raises Alarm Over Near-Miss Between Chinese Satellite and Starlink Spacecraft
SpaceX SpaceX Alleges a Chinese-Deployed Satellite Risked Colliding With Starlink
Starlink and Chinese satellites approach each other within 200 meters of each other in space - GIGAZINE
Society - Global Times
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
