Koki Yannick Alléno Merekonstruksi Visi Kuliner Christian Dior di Paris

Diedit oleh: Olga Samsonova

Restoran Monsieur Dior, yang berlokasi di jantung kota Paris, kini menjadi wadah bagi Koki Yannick Alléno untuk menghidupkan kembali potensi kuliner yang melekat pada nama Christian Dior. Kolaborasi ini melampaui kemitraan komersial, berupaya menerjemahkan filosofi estetika sang maestro mode ke dalam bahasa rasa dan tekstur. Alléno, seorang koki yang dikenal dengan pendekatan gastronomi modern, memanfaatkan keahliannya untuk menafsirkan warisan cita rasa yang ditinggalkan oleh pendiri rumah mode tersebut.

Christian Dior dikenal sebagai seorang penikmat kuliner ulung dengan pemahaman mendalam mengenai produk musiman. Ia pernah mengungkapkan ambisi—meski disampaikan secara bercanda kepada direkturnya, Jacques Rouët—untuk meluncurkan lini produk gastronomi, seperti 'ham Dior' atau 'daging panggang Dior'. Kecintaannya pada seni jamuan makan setara dengan dedikasinya pada haute couture, di mana ia memandang komposisi menu sebagai kreasi yang menuntut kesempurnaan dan harmoni yang sama. Warisan kulinernya terabadikan dalam buku masak edisi terbatas tahun 1972, La Cuisine Cousu-Main (Masakan Jahitan Tangan), yang memuat resep-resep favoritnya.

Alléno mengarahkan proyek ini dengan pertanyaan panduan: “Apa yang akan dilakukan Christian Dior jika ia menciptakan restoran hari ini?” Jawabannya termanifestasi dalam menu yang dirancang menyerupai koleksi couture, di mana bentuk, tekstur, dan rasa berdialog langsung dengan dunia mode dan arsip Dior. Inspirasi utama berasal dari alam dan bunga yang sangat dikagumi oleh Monsieur Dior, tercermin dalam aksen botani dan teknik draping pada hidangan. Pendekatan ini menyatukan tradisi dengan inovasi, sejalan dengan fokus Alléno pada teknik kontemporer dan penekanan Dior pada seni keramahtamahan.

Salah satu interpretasi menu yang menonjol adalah hidangan 'Œufs Christian Dior', penghormatan terhadap hidangan favorit sang couturier. Hidangan ini menampilkan telur setengah matang (œuf mollet) yang diperkaya dengan gel gelée d'extraction dari ham Paris untuk menyeimbangkan rasa, sementara garamnya disajikan melalui butiran kaviar. Terdapat pula reinterpretasi hidangan lain seperti lasagna artichoke berlipit, yang merupakan penghormatan visual terhadap keahlian tangan penjahit couture.

Keahlian Alléno dalam 'Masakan Modern' sangat bergantung pada teknik perintisannya, termasuk ekstraksi dan krio-konsentrasi. Teknik ini sering melibatkan pemasakan sous vide pada suhu sangat rendah untuk menginfus bahan secara perlahan, bertujuan menangkap esensi rasa tanpa merusak struktur melalui panas destruktif. Cairan yang diekstraksi kemudian dibekukan dan dipisahkan dari es menggunakan sentrifugasi untuk menghasilkan sari murni yang intens, yang menjadi dasar saus Alléno. Melalui pendekatan ini, Alléno berupaya menghadirkan masakan yang 'intens, jernih, dan langsung', sebuah filosofi yang selaras dengan garis desain Dior yang bersih dan terstruktur.

Restoran Monsieur Dior terletak di 30 Montaigne, rumah townhouse bersejarah tempat Maison Dior didirikan pada tahun 1946 dan masih menyimpan atelier-atelier ikoniknya. Dengan mengarahkan tiga ruang kuliner—Monsieur Dior, La Pâtisserie (kini Le Jardin), dan Le Café—Alléno memperluas narasi 'seni hidup' Dior. Penempatan ini menegaskan bahwa bahasa kemewahan kini terartikulasi dalam kain dan masakan, menjadikan Monsieur Dior jangkar gastronomi yang mewujudkan semangat zaman, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh Haute Couture Dior.

10 Tampilan

Sumber-sumber

  • EL PAÍS

  • Dior nomme Yannick Alléno nouveau chef du restaurant Monsieur Dior - FashionNetwork France

  • S-quive

  • MenWith

  • Yannick Alléno: un chef con 17 estrellas Michelin al servicio de Dior

  • LUDOVIC

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.