Struktur Diet dan Kecanggihan Kuliner Mesir Kuno Terungkap dari Persiapan Pemakaman
Diedit oleh: Olga Samsonova
Analisis artefak dan persiapan pemakaman di Mesir Kuno secara konsisten menunjukkan pola makan masyarakat yang terstruktur, dengan gandum jelai dan gandum emmer sebagai komoditas pokok bagi seluruh lapisan sosial. Kedua jenis biji-bijian ini menjadi bahan dasar pembuatan roti yang padat teksturnya, sekaligus difermentasi menjadi bir, minuman yang dianggap esensial dan dikonsumsi secara luas, bahkan oleh anak-anak pada masa itu. Peradaban yang berkembang di sepanjang Lembah Sungai Nil sejak sekitar tahun 3150 Sebelum Masehi ini memperlihatkan adaptasi pertanian yang cerdas terhadap lingkungan yang didominasi kekeringan.
Konsumsi pangan harian bagi mayoritas penduduk mencakup produk lokal yang kini dikenal memiliki nilai gizi tinggi, seperti bawang, lentil, kurma, dan delima. Sayuran seperti daun bawang merupakan favorit, yang tumbuh subur berkat sistem irigasi Sungai Nil. Buah-buahan seperti ara dan semangka juga menjadi bagian dari diet mereka, sering kali disajikan sebagai penutup hidangan. Bagi kalangan dengan sumber daya terbatas, protein sering kali diperoleh dari ikan Sungai Nil yang diawetkan melalui pengasinan atau pengeringan untuk memperpanjang daya simpannya. Pemahaman nutrisi yang mendalam ditunjukkan melalui konsumsi kacang polong dan buncis.
Sebaliknya, diet kelas elit menampilkan perbedaan signifikan dengan akses rutin terhadap daging sapi, unggas, dan babi, meskipun konsumsi babi dihindari oleh beberapa kelompok Mediterania Timur seperti orang Yahudi dan Fenisia karena pertimbangan kesehatan. Untuk menjaga kualitas daging premium ini, mereka menerapkan teknik pengawetan canggih, termasuk penggunaan resin impor seperti pistacia. Resin ini, bersama dengan lemak hewani dan minyak cedar, merupakan komponen dari bahan kompleks yang digunakan dalam proses pembalseman mumi, mengindikasikan adanya jaringan perdagangan internasional yang aktif hingga ke pantai timur Mediterania dan Asia Tenggara untuk mendapatkan bahan seperti elemi.
Kemajuan kuliner mereka diperkuat oleh penggunaan teknik pembumbuan yang rumit, membuktikan budaya pangan yang seimbang dan maju. Bumbu yang digunakan meliputi bawang putih, jintan, dan madu untuk memperkaya rasa. Jintan putih, khususnya, menjadi bumbu yang banyak digunakan di Mesir, berbeda dengan varian Baharat di wilayah Teluk yang cenderung lebih manis karena penggunaan kapulaga dan pala. Rempah campur tradisional Mesir, Dukkah, yang terdiri dari kacang panggang, wijen, jintan, ketumbar, dan lada, telah ada sejak zaman kuno sebagai sumber energi bagi para pekerja, menghasilkan tekstur renyah berpasir yang menunjukkan kecanggihan formulasi rasa.
Temuan dari makam-makam kuno, termasuk penemuan peralatan pembalseman di kompleks pemakaman Saqqara, menegaskan bahwa makanan adalah elemen sentral dalam kepercayaan mereka, di mana tiruan makanan diletakkan untuk kebutuhan arwah di alam baka. Penelitian arkeolog, seperti yang dilakukan oleh Dr. Jana Jones dari Universitas Macquarie terhadap mumi, menunjukkan bahwa resep salep pengawet—campuran gula, karet, dan resin konifer—yang berfungsi mencegah mikroba, telah berevolusi dan digunakan bahkan 2.500 tahun setelah mumi awal ditemukan. Bukti-bukti ini menggambarkan peradaban Mesir Kuno sebagai masyarakat dengan budaya kuliner yang kaya, terstruktur, dan sangat maju dalam pemanfaatan sumber daya alam mereka.
11 Tampilan
Sumber-sumber
ElNacional.cat
Sands of Time Gallery
wisdomlib
r/OutoftheTombs - Reddit
CairoScene
The Metropolitan Museum of Art
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



