Keterkaitan Defisiensi Vitamin D dengan Kelelahan dan Risiko Demensia
Diedit oleh: Olga Samsonova
Vitamin D, yang secara fungsional bertindak layaknya hormon, memegang peranan krusial dalam berbagai sistem biologis tubuh, mencakup metabolisme tulang, respons imun, serta fungsi kognitif.
Penelitian terbaru telah mengukuhkan adanya hubungan kausal antara tingkat defisiensi Vitamin D yang parah dengan peningkatan intensitas kelelahan, sebuah temuan yang sangat relevan terutama pada populasi wanita lanjut usia. Kekurangan nutrisi esensial ini menghambat kemampuan usus untuk menyerap mineral penting seperti kalsium dan fosfor, yang secara langsung berkontribusi pada munculnya gejala kelemahan dan nyeri otot. Para profesional medis umumnya menganjurkan agar orang dewasa menjaga kadar optimal, sering kali merekomendasikan suplementasi harian antara 1.000 hingga 2.000 Unit Internasional (IU). Di luar fungsi klasiknya dalam regulasi mineral dan kesehatan kerangka, data yang terus berkembang menyoroti peran Vitamin D dalam aspek pertumbuhan rambut dan stabilitas kesehatan mental, di mana kadar yang rendah kerap diasosiasikan dengan perubahan suasana hati.
Lebih lanjut, penemuan signifikan menunjukkan bahwa defisiensi berat Vitamin D berkorelasi dengan peningkatan risiko pengembangan demensia dan penyusutan volume otak. Studi yang dilakukan oleh Dr. David Llewellyn dan timnya menemukan bahwa hubungan antara kadar Vitamin D rendah dengan risiko demensia dan penyakit Alzheimer ternyata dua kali lebih kuat dari yang sebelumnya diperkirakan. Para ilmuwan mengestimasi bahwa berpotensi hingga 17 persen kasus demensia dalam kelompok populasi tertentu dapat dicegah asalkan status Vitamin D seseorang dipertahankan pada tingkat yang normal. Kondisi defisiensi Vitamin D, yang didefinisikan oleh kadar 25-hidroksi vitamin D (25(OH)D) di bawah 50 nmol/L, terbukti meningkatkan pergantian tulang, mengurangi massa tulang, dan mengganggu proses mineralisasi.
Di Indonesia, data menunjukkan bahwa pada setiap tiga lansia, terdapat satu lansia yang berisiko mengalami defisiensi, dan lebih dari 80 persen lansia yang menjadi target penelitian memiliki kecukupan Vitamin D di bawah 80% Angka Kecukupan Gizi (AKG). Penelitian oleh Irawati et al. (2018) menemukan bahwa empat dari lima lansia memiliki asupan makanan yang rendah Vitamin D, diperparah oleh aktivitas di luar ruangan yang terbatas dan penggunaan pakaian yang menutupi seluruh permukaan tubuh. Faktor risiko utama lain yang teridentifikasi pada lansia di Kota Mataram meliputi gangguan penglihatan, adanya demensia, dan kekhawatiran akan risiko jatuh.
Para pakar kesehatan memberikan peringatan tegas untuk tidak melakukan swa-resep dosis tinggi tanpa dasar yang jelas, menekankan bahwa tes darah merupakan metode paling akurat untuk menentukan status nutrisi dan mencegah potensi komplikasi, seperti peningkatan kadar kalsium dalam darah. Vitamin D, yang merupakan senyawa larut lemak, memerlukan penyerapan bersama lemak untuk efektivitas maksimal. Meskipun paparan sinar matahari pagi selama 15 hingga 20 menit antara pukul 8 hingga 10 pagi dapat memicu produksi Vitamin D secara alami, ketergantungan penuh pada jalur ini tidak lagi memadai di era modern. Kebutuhan harian yang direkomendasikan untuk orang dewasa umumnya berkisar antara 1.000 hingga 2.000 IU, namun bagi lansia di atas 75 tahun, kebutuhan ini dapat meningkat menjadi sekitar 2.500 IU per hari karena penurunan kemampuan kulit dalam memproduksi vitamin dari paparan matahari. Uji klinis lebih lanjut kini sangat diperlukan untuk menguji apakah intervensi melalui diet kaya ikan berlemak atau suplementasi Vitamin D dapat menunda atau bahkan mencegah timbulnya penyakit Alzheimer dan demensia.
5 Tampilan
Sumber-sumber
Internewscast Journal
University of South Australia
The London Osteoporosis Clinic Editorial Team
MedPodLA - Daniel, Ghiyam MD - Beverly HIlls CA 90210 - A4M
Dr. Raj Dasgupta (2026) - Sleep Advisor
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
