«Dibuat dengan AI»: Rumah Mode Gucci Menggunakan Kecerdasan Buatan dalam Kampanye Terbaru, Memicu Debat Hangat

Diedit oleh: Katerina S.

Rumah mode ternama asal Italia, Gucci, baru-baru ini memicu diskusi intens di industri fesyen global setelah meluncurkan materi visual yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Kampanye ini dirancang untuk mempromosikan koleksi terbaru mereka menjelang perhelatan akbar Milan Fashion Week. Dengan menyematkan label «Dibuat dengan AI» pada gambar-gambar tersebut, langkah berani ini diambil tepat sebelum peragaan busana yang sangat dinantikan dari direktur kreatif baru mereka, Demna Gvasalia, yang dijadwalkan menjabat pada tahun 2025.

Penunjukan Demna, yang sebelumnya sukses memimpin Balenciaga dari tahun 2015 hingga 2025, dipandang sebagai pergeseran kreatif yang signifikan bagi rumah mode yang sedang mencari penyegaran ini. Namun, keputusan untuk menggunakan AI generatif justru menuai gelombang kritik di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna mempertanyakan apakah teknologi digital semacam itu selaras dengan narasi tradisional Gucci yang selama ini sangat menjunjung tinggi keahlian tangan (craftsmanship) dan warisan budaya Italia. Beberapa kritikus bahkan tidak ragu menyebut konten yang dihasilkan tersebut sebagai «AI slop» atau sampah digital.

Eksperimen teknologi yang dilakukan oleh Gucci ini terjadi di tengah tantangan finansial yang sedang dihadapi oleh perusahaan induknya, Kering. Koleksi debut dari Demna kini berada di bawah tekanan besar untuk tidak hanya meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen, tetapi juga untuk memulihkan kinerja keuangan perusahaan yang sedang lesu. Keberhasilan koleksi ini dianggap krusial bagi masa depan jangka pendek merek mewah tersebut dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.

Meskipun merek-merek besar lainnya seperti Valentino dan H&M juga mulai bereksperimen dengan AI generatif di media sosial, perdebatan seputar Gucci lebih berfokus pada apakah langkah ini merupakan bentuk provokasi artistik atau justru sebuah penyimpangan dari ideologi kemewahan. Sebenarnya, Gucci bukan pemain baru dalam teknologi digital; mereka pernah berkolaborasi dengan seniman untuk karya yang dijual di lelang NFT melalui Christie's dan merilis video buatan AI pada Desember tahun lalu. Salah satu poin yang paling banyak disorot adalah gambar seorang wanita tua Italia bergaya vintage, yang memicu komentar pedas bahwa «hari-hari kelam telah tiba ketika Gucci bahkan tidak bisa menemukan nenek asli Milan untuk memperagakan busana tahun 1976».

Di satu sisi, para analis melihat potensi ekonomi yang sangat besar dari penggunaan AI generatif, yang diperkirakan dapat menambah laba operasional sektor fesyen antara 150 hingga 275 miliar dolar AS dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Di sisi lain, para ahli seperti Priscilla Chan, dosen senior di University of Manchester, memberikan batasan tegas antara pengeditan gambar non-invasif dengan pembuatan gambar secara utuh oleh mesin. Hal terakhir ini cenderung memicu kecurigaan di kalangan konsumen yang mengharapkan tingkat kemahiran manusia yang tinggi dalam setiap produk mewah.

Penunjukan Demna Gvasalia, yang dikenal dengan pendekatan provokatifnya, semakin memperkuat diskusi ini karena koleksi debutnya akan menjadi penentu arah baru bagi perkembangan merek tersebut. Dinamika antara inovasi teknologi dan tradisi ini menempatkan Gucci di persimpangan jalan yang krusial. Industri mode kini mengamati dengan seksama apakah penggunaan AI akan menjadi standar baru dalam pemasaran barang mewah atau tetap menjadi eksperimen yang kontroversial di mata para purist fesyen.

5 Tampilan

Sumber-sumber

  • Financial News

  • The Chronicle Online

  • Fashion Dive

  • Business Chief

  • CMSWire

  • Digital Marketing Institute

  • Agency Reporter

  • Azarian Growth Agency

  • The Grand Creative Directors Debut: Who's Where for Spring/Summer 2026

  • Capital FM

  • Wonderland Magazine

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.