
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Floreana Galapagos Setelah Hampir Dua Abad
Diedit oleh: Olga Samsonova

Setelah absen selama hampir dua abad, kura-kura raksasa telah kembali menjelajahi Pulau Floreana di Kepulauan Galapagos, Ekuador, menandai pencapaian signifikan dalam upaya restorasi ekologi kawasan tersebut. Pada 20 Februari 2026, sebanyak 158 individu kura-kura remaja dari garis keturunan Floreana dilepaskan kembali ke habitat asli mereka, mengaktifkan kembali proses ekologis yang terhenti sejak pertengahan abad ke-19.
Kepunahan spesies asli, Chelonoidis niger niger, diperkirakan terjadi sekitar tahun 1840-an akibat eksploitasi oleh pelaut yang menggunakan kura-kura sebagai sumber makanan selama pelayaran panjang. Charles Darwin mencatat penurunan populasi spesies ini pada kunjungannya tahun 1835, menjadikannya kura-kura Galapagos pertama yang hilang dari kepulauan tersebut. Kembalinya satwa ikonik ini merupakan puncak dari Proyek Restorasi Ekologi Floreana, inisiatif yang dipimpin oleh Direktorat Taman Nasional Galapagos bekerja sama dengan Galapagos Conservation Trust (GCT), Fundación Jocotoco, dan Island Conservation.
Program pembiakan kembali diluncurkan pada tahun 2017, menyusul penemuan mengejutkan pada tahun 2008 di Gunung Berapi Wolf, Pulau Isabela. Di sana, para ilmuwan menemukan kura-kura hibrida yang membawa komponen genetik signifikan dari subspesies Floreana yang telah punah. Sebanyak 23 hibrida terpilih kemudian dikembangbiakkan di pusat penangkaran di Pulau Santa Cruz. Hingga tahun 2025, program penangkaran telah menghasilkan lebih dari 600 tukik, dengan beberapa ratus mencapai ukuran yang dianggap aman untuk dilepaskan ke alam liar.
Kura-kura yang dilepaskan pada Februari 2026 ini berusia antara 8 hingga 13 tahun dan telah melalui karantina ekstensif serta pemasangan microchip untuk identifikasi. Direktur ekosistem taman nasional, Christian Sevilla, menyatakan bahwa kura-kura muda tersebut membawa antara 40 hingga 80 persen komposisi genetik spesies asli Floreana. Teknologi modern, termasuk data satelit NASA, juga digunakan untuk menentukan lokasi pelepasan yang optimal terkait ketersediaan makanan, air, dan habitat bertelur.
Kembalinya kura-kura raksasa sangat krusial karena peran mereka sebagai spesies kunci dan insinyur ekosistem, yang secara historis penting dalam membentuk bentang alam Floreana melalui penyebaran biji-bijian dan pengaturan vegetasi. Restorasi ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembalikan total dua belas spesies endemik yang sebelumnya punah secara lokal dari pulau tersebut, setelah pembersihan spesies invasif seperti tikus dan kucing liar selesai pada akhir tahun 2023. Dr. Jen Jones, Kepala Eksekutif GCT, menekankan bahwa momen ini memvalidasi kolaborasi antara ilmuwan, lembaga amal, dan komunitas lokal, menjadikan proyek ini model global untuk pemulihan pulau berpenghuni.
8 Tampilan
Sumber-sumber
PlusNews
The Guardian
NASA
Island Conservation
Galapagos Conservation Trust
Galápagos Conservancy
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



