Integrasi Edukasi Gizi Wajib Perkuat Program Makan Bergizi Gratis Pemerintah Indonesia

Diedit oleh: Olga Samsonova

Pemerintah Republik Indonesia telah mewajibkan integrasi edukasi nutrisi sebagai bagian esensial dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Kewajiban ini ditegaskan melalui peluncuran modul panduan teknis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai rujukan nasional bagi seluruh satuan pendidikan dan pemerintah daerah. Langkah strategis ini menggeser fokus MBG dari sekadar distribusi makanan menjadi upaya transformatif untuk membangun kesadaran dan perilaku konsumsi siswa secara berkelanjutan.

Modul-modul yang diluncurkan, terdiri dari enam dokumen strategis, dirancang untuk menjamin implementasi MBG berjalan terstandar, akuntabel, dan efektif dalam jangka panjang. Komponen kunci edukasi ini mencakup simulasi wajib selama lima menit sebelum menyantap hidangan, serta integrasi materi gizi ke dalam mata pelajaran reguler seperti Bahasa Indonesia. Inisiatif ini secara eksplisit ditujukan untuk membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, dengan mengatasi tantangan nutrisi historis bangsa.

Program MBG, yang dimulai pada Januari 2025 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menargetkan 82,9 juta penerima manfaat dalam lima tahun ke depan, mencakup siswa dari PAUD hingga SMA/SMK, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menekankan bahwa keberhasilan program bertumpu pada tiga pilar: penyediaan makanan bergizi sesuai standar keamanan pangan, edukasi gizi interaktif, dan perbaikan lingkungan pangan sekolah melalui kantin sehat. Pilar pendidikan ini dipandang sebagai instrumen vital untuk menanamkan budaya hidup sehat sejak dini.

Data menunjukkan urgensi program ini didasari oleh tantangan gizi, seperti angka stunting yang tercatat 21,6% pada tahun 2022, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyatakan bahwa MBG adalah investasi jangka panjang, di mana setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditargetkan menyerap Rp8-10 miliar per tahun, dengan 85 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku yang 95 persennya bersumber dari produk lokal, sekaligus menggerakkan ekonomi UMKM daerah.

Kemendikdasmen, sebagai penerima manfaat terbesar dengan cakupan sekitar 53 juta siswa, memandang bahwa gizi optimal berdampak langsung pada kemampuan kognitif, fokus belajar, dan daya tahan tubuh siswa. Guru di sekolah penerima MBG kini ditetapkan sebagai fasilitator utama edukasi gizi, menjadikan materi terintegrasi sebagai bagian esensial peningkatan mutu pendidikan nasional. Meskipun program ini monumental, dengan target 32.000 SPPG beroperasi hingga akhir 2025, pemerintah terus memperkuat pengawasan standar operasional menyusul insiden keracunan makanan yang dilaporkan sangat kecil, sekitar 0,0007 persen dari total distribusi sejak awal tahun 2025.

Sumber-sumber

  • TEMPO.CO

  • Tempo.co

  • RRI

  • Kemendikdasmen

  • VOI

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?

Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.