Keterkaitan Genetik dan Waktu Makan Mempengaruhi Risiko Metabolik
Diedit oleh: Olga Samsonova
Sebuah penelitian yang dilakukan di Spanyol mengidentifikasi bahwa kondisi kebosanan merupakan faktor risiko metabolik yang signifikan, setara dengan dampak konsumsi gula berlebih. Fenomena makan karena emosi, yang sering melibatkan konsumsi makanan ultra-proses, terjadi ketika otak yang mengalami kebosanan mencari pelepasan dopamin secara cepat. Pencarian kesenangan instan ini secara otomatis mengabaikan pilihan nutrisi yang lebih sehat, yang pada akhirnya berkontribusi pada asupan gizi yang buruk dan peningkatan berat badan. Kondisi ini menyoroti bagaimana keadaan psikologis dapat secara langsung memengaruhi fisiologi tubuh, menjadikannya isu kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara komprehensif.
Secara khusus, kebiasaan mengemil pada malam hari terbukti sangat merugikan, terutama bagi populasi di Spanyol yang membawa varian gen MTNR1B. Gen spesifik ini diketahui mengganggu toleransi glukosa ketika asupan makanan dilakukan pada waktu larut malam, karena konsumsi makanan sering kali bertepatan dengan keberadaan melatonin, yang secara fundamental mengacaukan ritme sirkadian alami tubuh. Penelitian yang dilakukan oleh Brigham and Women's Hospital di Boston dan mitra lainnya menunjukkan bahwa makan sepanjang malam dapat menyebabkan pilihan makanan yang lebih buruk dan penambahan berat badan, meningkatkan risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular, karena ketidakselarasan antara jam pusat dan perifer tubuh. Studi percontohan silang yang melibatkan 845 orang dewasa di Spanyol menemukan bahwa kadar melatonin serum 3,5 kali lebih tinggi pada kondisi makan larut malam, dan waktu makan larut malam secara signifikan mengganggu toleransi glukosa pada pembawa alel risiko MTNR1B, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Gangguan ini disebabkan oleh defek pada sekresi insulin.
Individu dengan jadwal kerja siang hari yang teratur disarankan untuk mempertahankan pola makan siang hari yang seimbang dan menghindari ngemil larut malam. Sebagai strategi penanggulangan, peningkatan asupan serat dari buah-buahan dan sayuran sangat dianjurkan, didukung oleh temuan kuat dari studi PREDIMED. Studi PREDIMED, yang merupakan uji coba terkontrol secara acak multisenter di Spanyol, meneliti individu dengan risiko kardiovaskular tinggi dan menunjukkan manfaat diet Mediterania. Diet Mediterania, yang diperkaya dengan Minyak Zaitun Extra Virgin (EVOO) atau kacang-kacangan, terbukti mendorong rasa kenyang yang bertahan lama, sehingga efektif melawan hasrat untuk mengonsumsi camilan olahan. EVOO kaya akan lemak tak jenuh tunggal seperti asam oleat, yang mendukung kesehatan jantung dengan membantu menurunkan kolesterol jahat LDL dan meningkatkan HDL.
Para ahli nutrisi menyarankan penetapan rutinitas makan yang tetap, seperti menyelenggarakan makan malam lebih awal, untuk secara alami memperpanjang periode puasa semalam suntuk dan mengurangi peluang terjadinya 'ngemil emosional' yang tidak terencana. Konsumsi serat yang cukup, dengan panduan umum menyarankan antara 25 hingga 38 gram per hari untuk orang dewasa, juga merupakan kebiasaan penting untuk kesehatan metabolisme, karena serat membantu mengatur nafsu makan dan meningkatkan hormon kenyang seperti GLP-1 dan PYY. Mengintegrasikan protein, karbohidrat kaya serat, dan sayuran non-pati dalam setiap waktu makan dapat menciptakan komposisi makanan yang seimbang dan mendukung fungsi metabolisme yang optimal, menjauhkan individu dari siklus makan emosional yang dipicu oleh kebosanan.
11 Tampilan
Sumber-sumber
Xataka
EL PAÍS
Xataka
Canal Diabetes
ELLE
CIBEROBN
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.