PERTANYAAN:
Lee yang terhormat, Anda tampaknya lebih mendalami mekanika kuantum, namun saya ingin mengajukan pertanyaan mengenai ilmu sosial. Bagaimanapun, menurut saya, ilmu sosial memiliki pengaruh langsung atau setidaknya menjadi inspirasi bagi perubahan tatanan dunia dan kehidupan secara luas. Namun, saya merasa saat ini ada sesuatu yang hilang dari bidang tersebut. Ada yang berpendapat bahwa segala hal merupakan konstruksi sosial; ada pula konsep geografi melampaui-manusia, geografi melampaui-fisik, geografi dekolonial, hingga pandangan post-strukturalis yang menyatakan bahwa tempat dan ruang tidak memiliki makna tunggal karena dipahami secara berbeda berdasarkan budaya, bahasa, serta posisi sosial individu. Namun, tetap saja ada yang terasa kurang, seolah-olah aspek aplikatif dan rasionalnya menghilang, atau mungkin maknanya telah pudar. Tentu mereka tidak akan menyatakan bahwa cinta adalah dasar dari segalanya dan semua adalah Satu (setidaknya untuk saat ini).
Tentu sulit untuk merangkum hal-hal tersebut dalam satu teori tunggal, namun mengingat besarnya pengaruh sains terhadap pemikiran dan perkembangan masyarakat saat ini, menurut pandangan Anda, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh teori semacam itu?
JAWABAN lee:
Justru di dalam kerangka Satu teori itulah segala sesuatu dapat terangkum. Bukan dua, bukan tiga, melainkan satu. Proses yang berulang di semua fenomena adalah jawaban atas pertanyaan Anda. Dengan segala kerendahan hati, saya memiliki teori semacam itu (FHT), yang telah diuji secara matematis sesuai standar dan tuntutan sains modern. Teori ini telah melewati berbagai validasi awal, mencakup bidang fisika, kimia, hakikat energi, struktur kesadaran, biologi, DNA, hingga mekanisme pola kolektif...
Implementasi cepat dari teori ini tentu membutuhkan dukungan serius dari berbagai struktur... Namun, poin utamanya bukan di situ. Bagi saya pribadi, teori fisika-matematika inilah yang saat ini sangat membantu dalam memahami berbagai proses. Teori ini terkadang berfungsi sebagai "verifikator"—semacam sensor penguji. Jika ada sesuatu yang tampak meragukan, cukup menjalankannya melalui model matematika ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat. Hal ini mencakup proses struktur waktu, hakikat DNA, makna genetika, frekuensi, hingga prinsip distribusi informasi dan aspek lainnya.
Sekalipun saya melakukan kesalahan dalam teori FHT ini, kesalahan tersebut hanyalah bersifat teknis akibat keterbatasan pendekatan linear manusia, tanpa membatalkan prinsip-prinsip umumnya.
Jadi, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, hanya ada satu Teori Segala Sesuatu yang mungkin ada. Tidak peduli siapa yang merumuskannya atau apa namanya. Yang terpenting adalah pemahaman bahwa tidak ada dua proses yang berbeda—segalanya dibangun di atas pengulangan satu Proses yang sama.



