Studi Ilmiah Konfirmasi Respons Duka Kompleks pada Hewan Domestik
Diedit oleh: Olga Samsonova
Riset terbaru menguatkan bahwa hewan domestik, termasuk anjing dan kucing, menunjukkan respons perilaku dan fisiologis yang kompleks terhadap kehilangan figur ikatan dalam rumah tangga. Pemahaman ilmiah mengenai kesedihan pada fauna telah berkembang, menyingkap bahwa mamalia berbagi sistem ikatan paralel dengan manusia, yang regulasinya melibatkan neurokimia seperti oksitosin dan kortisol. Ketidakstabilan pada sistem ikatan ini akibat menghilangnya figur keterikatan memicu respons stres fisiologis pada hewan peliharaan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA) mendapati bahwa lebih dari 60% hewan peliharaan menunjukkan empat atau lebih perubahan perilaku setelah kehilangan sahabat serumah. Hewan-hewan ini menyusun kehidupan mereka berdasarkan rutinitas terstruktur, yang terganggu secara langsung ketika seorang pendamping tiada, seringkali bermanifestasi melalui perilaku seperti menunggu di dekat pintu atau peningkatan aktivitas pencarian.
Manifestasi duka bervariasi antarspesies. Pada anjing, kesedihan sering meliputi lesu, penurunan asupan makanan, kegelisahan, dan perubahan pola vokal. Sebuah survei yang dipimpin oleh Federica Pirrone dari University of Milan terhadap 426 pemilik anjing di Italia mengungkapkan bahwa 86 persen pemilik melaporkan reaksi negatif pada anjing yang tersisa, dengan 67 persen menunjukkan kebutuhan akan perhatian yang lebih besar. Sementara itu, duka pada kucing cenderung lebih terselubung, termanifestasi melalui peningkatan perilaku bersembunyi, penurunan frekuensi merawat diri, atau perubahan dalam tingkat kasih sayang yang ditunjukkan.
Penelitian dari Universitas Oakland di Amerika Serikat menemukan bahwa kucing yang berduka mengurangi aktivitas seperti makan, tidur, dan bermain, sekaligus mencari perhatian manusia dan hewan lain, bersembunyi, atau menghabiskan waktu lebih banyak untuk menyendiri. Perilaku mencari juga umum terjadi; sekitar 60% hewan peliharaan akan terus kembali ke lokasi tertentu tempat mereka biasa berinteraksi dengan sahabat yang telah meninggal.
Para ahli etologi veteriner menyarankan bahwa mempertahankan rutinitas harian yang konsisten berfungsi sebagai jangkar psikologis vital bagi hewan peliharaan yang sedang berduka. Dalam beberapa kasus, membiarkan hewan yang masih hidup melihat atau mencium jenazah pendamping yang telah meninggal dapat membantu dalam memproses finalitas kehilangan. Meskipun mayoritas hewan peliharaan menunjukkan pemulihan dalam beberapa minggu, gejala parah seperti penolakan berkelanjutan untuk makan memerlukan konsultasi dokter hewan untuk menyingkirkan kemungkinan masalah medis yang mendasari. Studi menekankan bahwa ikatan emosional yang kuat, atau *Pet Attachment*, menciptakan risiko emosional mendalam saat kehilangan terjadi, yang menyoroti perlunya dukungan sosial yang memadai bagi pemilik yang berduka.
7 Tampilan
Sumber-sumber
ArcaMax
Funeral.com
Horse & Hound
The American College of Veterinary Behaviorists
PetMD
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.