Pemulihan Pulau Raine Mendorong Peningkatan Populasi Penyu Hijau
Diedit oleh: Olga Samsonova
Upaya konservasi berskala besar di Pulau Raine, yang diakui sebagai lokasi peneluran penyu hijau terbesar di dunia, telah menghasilkan peningkatan signifikan dalam kelangsungan hidup spesies tersebut. Survei terbaru pada awal tahun 2026 mengonfirmasi lonjakan jumlah penyu hijau, melanjutkan keberhasilan Proyek Pemulihan Pulau Raine (Raine Island Recovery Project) yang rampung pada akhir 2025. Lokasi ini sangat vital karena menampung hampir 90 persen populasi penyu hijau di wilayah utara Great Barrier Reef.
Proyek restorasi yang dipimpin oleh Great Barrier Reef Foundation ini melibatkan penataan ulang geografis pulau dan mitigasi risiko bersarang. Yayasan tersebut mengestimasi bahwa intervensi ini telah menghasilkan penambahan sekitar 640.000 tukik selama periode proyek berlangsung. Proyek ini merupakan kolaborasi perintis yang menyatukan sektor bisnis, pemerintah, ilmu pengetahuan, manajemen terumbu karang, dan Pemilik Tradisional, termasuk Wuthathi Nation dan Meriam Nation (Ugar, Mer, Erub), untuk mencari solusi inovatif.
Salah satu intervensi fisik utama adalah pemindahan sekitar 40.000 meter kubik pasir untuk membentuk kembali 35.000 meter persegi pantai bersarang. Tindakan ini secara efektif menggandakan area habitat bersarang yang layak di atas batas pasang surut tertinggi. Keterlibatan Pemilik Tradisional sangat mendalam, termasuk pengerahan tag satelit untuk memetakan pola migrasi pasca-bersarang, yang memberikan data penting mengenai pergerakan populasi. Selain itu, upaya pencegahan kematian penyu dewasa dilakukan dengan pemasangan pagar pembuktian sepanjang 1750 meter untuk melindungi penyu yang sedang bertelur dari jatuh ke tebing.
Keberhasilan proyek yang dimulai sejak 2015 ini telah menjadi landasan bagi dua proyek penyelamatan terumbu karang skala besar lainnya. Fokus konservasi saat ini bergeser untuk mengatasi dampak perubahan iklim, terutama isu kenaikan suhu yang berpotensi mendistorsi rasio jenis kelamin tukik yang menetas. Fenomena 'feminisasi' terjadi karena suhu inkubasi telur menentukan jenis kelamin, di mana suhu yang lebih hangat cenderung menghasilkan lebih banyak betina. Penelitian memprediksi bahwa hingga 93 persen tukik dalam populasi penyu hijau penting bisa menjadi betina pada tahun 2100 jika tren pemanasan berlanjut.
Sebagai respons terhadap ancaman 'feminisasi', upaya eksperimental sedang dilakukan, seperti pemindahan beberapa kelompok telur ke area yang lebih teduh di Sir Charles Hardy (Taman Nasional Wuthathi). Tujuannya adalah menguji hipotesis bahwa suhu inkubasi yang lebih rendah di area berbayang dapat menghasilkan rasio jenis kelamin yang lebih seimbang, yaitu lebih banyak penyu jantan, yang krusial untuk keberlanjutan populasi. Kegagalan mengelola kerentanan spesifik jenis kelamin terhadap suhu global yang meningkat dapat mengakibatkan hilangnya tiga puluh tahun upaya konservasi dalam satu generasi penyu.
Secara historis, populasi penyu hijau di Great Barrier Reef bagian utara mengalami penurunan selama lebih dari tiga dekade akibat sarang yang terendam banjir dan kematian penyu karena kelelahan atau jatuh dari tebing. Keberhasilan intervensi di Pulau Raine, yang merupakan bagian dari upaya konservasi yang lebih luas di kawasan Indo-Pasifik, menunjukkan bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, pemerintah, dan Pemilik Tradisional dapat memberikan hasil nyata bagi keanekaragaman hayati laut. Meskipun demikian, tantangan global seperti pemanasan global dan dampaknya terhadap ekosistem laut tetap menjadi agenda utama konservasi ke depan.
4 Tampilan
Sumber-sumber
Mirage News
Department of the Environment, Tourism, Science and Innovation (DETSI), Queensland
Murray Watt
Ministers | Queensland Parliament
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.