
Pergeseran Fokus Nutrisi: Kualitas Pangan Kunci Kesehatan Vaskular di Tengah Peningkatan Penyakit Kronis
Diedit oleh: Olga Samsonova

Pakar kesehatan global semakin menekankan bahwa pola asupan makanan memberikan dampak substansial terhadap kesehatan vaskular dan risiko penyakit kronis, mendorong pergeseran fokus dari penghitungan kalori semata menuju evaluasi kualitas pangan secara menyeluruh. Perubahan paradigma ini menjadi penting mengingat prevalensi penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker yang terus meningkat seiring gaya hidup modern yang kurang sehat.
Pola konsumsi khas masyarakat Barat saat ini ditandai dengan defisit asupan serat dan makanan nabati utuh, berbanding terbalik dengan tingginya konsumsi lemak jenuh dan gula tambahan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan batas konsumsi gula harian tidak melebihi 50 gram dan garam 2.000 miligram natrium per orang dewasa, batasan yang kerap terlampaui melalui konsumsi makanan olahan. Kekhawatiran utama saat ini berpusat pada produk makanan ultra-proses, yang dicirikan oleh daftar bahan yang panjang dan kandungan aditif tinggi, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gangguan mental, dan berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal.
Salah satu contoh spesifik adalah daging olahan, yang diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1, mendorong Uni Eropa untuk meninjau batas kandungan nitrit yang diizinkan. Sebagai alternatif, produk nabati seperti tahu asap mulai dipromosikan. Selain itu, konsumsi berlebihan produk roti komersial dan minuman bergula tinggi berkontribusi pada resistensi insulin, sehingga dianjurkan untuk beralih ke versi buatan rumah menggunakan biji-bijian utuh dan pemanis alami. Secara klinis, seringnya mengonsumsi makanan cepat saji terbukti berhubungan dengan hipertensi dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular akibat kandungan lemak jenuh, garam, dan gula yang tidak seimbang.
Asupan gula tambahan yang berlebihan berkorelasi kuat dengan gangguan metabolik, berbeda dengan buah utuh yang menyediakan pemanis alami bersamaan dengan serat penting yang mendukung kesehatan mikrobioma usus. Makanan seperti sereal sarapan yang manis dan kentang yang digoreng dalam minyak banyak sangat tidak dianjurkan karena menawarkan kepuasan yang rendah dengan kandungan lemak dan garam yang tinggi; sebagai solusi, para ahli menyarankan memanggang kentang sebagai pengganti metode penggorengan. Sebagai perbandingan, Diet Mediterania, yang menekankan makanan nabati dan biji-bijian utuh seperti beras merah dan gandum utuh, telah terbukti mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2, menurut Heather Seid, MS, ahli diet terdaftar di Universitas Columbia.
Konsensus ilmiah mendukung pengurangan drastis makanan ultra-proses dan peningkatan ketergantungan pada makanan utuh berbasis tumbuhan untuk pemeliharaan kesehatan jangka panjang. Prioritas ini sejalan dengan rekomendasi Scientific Report of the 2025 Dietary Guidelines Advisory Committee yang mengutamakan protein nabati, meskipun suplementasi Vitamin B12 menjadi keharusan karena tidak diproduksi oleh tanaman. Perubahan pola makan ini menawarkan jalur preventif yang kuat terhadap penyakit kronis, menuntut kesadaran dan perencanaan nutrisi yang lebih cermat dari konsumen.
25 Tampilan
Sumber-sumber
Plantbased Telegraf
The Guardian
HHS, FDA and USDA Address the Health Risks of Ultra-Processed Foods
Congress Says Dietary Guidelines Needed for Americans with Chronic Disease
Nutrition for Healthspan Initiative Trends for 2025 - Global Wellness Institute
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



