Jejak Danau Purba Raksasa Ungkap Masa Lalu 'Arabia Hijau' di Rub' al-Khali

Diedit oleh: Tetiana Martynovska 17

Sebuah penelitian komprehensif, yang hasilnya dipublikasikan pada tahun 2025, mengonfirmasi bahwa lanskap gurun Arab Saudi, khususnya di wilayah Rub' al-Khali atau Empty Quarter, pernah menjadi ekosistem subur yang menopang kehidupan satwa liar dan populasi manusia sebelum terjadi perubahan iklim masif yang memicu desertifikasi. Temuan ini menantang pandangan konvensional mengenai Jazirah Arab sebagai hamparan yang selalu kering kerontang.

Para ilmuwan memanfaatkan analisis bentuk lahan kuno, sedimen, dan data satelit untuk mengidentifikasi jejak ekosistem kaya yang berkembang selama fase basah siklis di Semenanjung Arab. Publikasi ilmiah, termasuk yang terbit di jurnal Communications Earth & Environment, menjadi landasan metodologis bagi penemuan ini. Bukti paling signifikan adalah keberadaan danau purba yang kini terkubur di bawah pasir Empty Quarter, dengan cakupan area diperkirakan mencapai 1.100 kilometer persegi, sebanding dengan luas Danau Michigan-Huron di Amerika Serikat. Pada titik tertingginya, danau raksasa ini memiliki kedalaman hingga 42 meter, volume air yang luar biasa di wilayah yang kini dikenal sebagai salah satu tempat paling kering di Bumi.

Dr. Abdallah Zaki dari Universitas Jenewa, penulis utama studi, menyatakan bahwa danau tersebut mencapai puncak kejayaannya sekitar 9.000 tahun lalu selama periode yang dikenal sebagai 'Arabia Hijau' basah, yang berlangsung antara 11.000 hingga 5.500 tahun yang lalu. Periode basah ini dipicu oleh ekspansi ke utara dari sistem monsun Afrika dan India, yang membawa curah hujan intensif ke wilayah tersebut. Peningkatan curah hujan yang signifikan ini mengubah lanskap secara drastis menjadi sabana yang ditumbuhi padang rumput dan lahan basah, mampu menopang fauna besar seperti kuda nil dan buaya.

Profesor Michael Petraglia, Direktur Pusat Penelitian Evolusi Manusia Australia di Universitas Griffith, menjelaskan bahwa pembentukan bentang alam danau dan sungai ini memfasilitasi perluasan kelompok pemburu-pengumpul serta populasi penggembala. Bukti arkeologis, termasuk penemuan perkakas batu, memperkuat peran Arab sebagai koridor penting bagi pergerakan manusia keluar dari Afrika menuju Asia, yang dimungkinkan oleh ketersediaan air dan vegetasi. Kondisi lembap yang mendukung kehidupan ini berakhir secara mendadak sekitar 6.000 tahun yang lalu seiring melemahnya intensitas hujan, menyebabkan danau mengering dan pasir mulai menguasai kembali bentang alam.

Penelitian lebih lanjut, termasuk analisis stalagmit dari gua-gua di Arab Saudi tengah, menegaskan bahwa fenomena 'Green Arabia' ini merupakan bagian dari siklus iklim Bumi yang lebih panjang. Penemuan ini menambah konteks pada studi migrasi manusia purba, di mana wilayah Arab yang kini tandus pernah menjadi jalur vital. Jejak kaki manusia purba yang ditemukan di Gurun Nefud, yang diperkirakan berusia sekitar 120.000 tahun, menguatkan peran Semenanjung Arab sebagai jembatan penyebaran manusia dari Afrika ke Levant. Pemahaman pola iklim purba ini memiliki implikasi besar bagi pemodelan respons lanskap gurun terhadap perubahan iklim global di masa depan.

15 Tampilan

Sumber-sumber

  • MoneyControl

  • The Times of India

  • Université de Genève

  • Popular Mechanics

  • Ynetnews

  • ScienceDaily

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.