Uganda Mengembalikan Badak Putih ke Cagar Alam Liar Ajai Setelah Puluhan Tahun

Diedit oleh: Olga Samsonova

Uganda telah mencatatkan tonggak sejarah konservasi dengan keberhasilan memindahkan badak putih selatan ke habitat liar di Cagar Alam Liar Ajai. Langkah ini menandai kembalinya spesies tersebut ke wilayah utara negara itu setelah mengalami kepunahan lokal pada era 1980-an, sebuah kemunduran yang disebabkan oleh maraknya perburuan liar dan ketidakstabilan politik yang meluas di kawasan tersebut. Upaya pemulihan ini merupakan bagian integral dari Strategi Konservasi Badak Nasional Uganda, yang bertujuan membangun kembali populasi badak sekaligus mengembalikan spesies tersebut ke sebagian dari wilayah historisnya.

Pada hari Rabu, 8 Januari 2026, empat individu badak putih selatan dipindahkan secara aman ke Cagar Alam Liar Ajai yang terletak di Distrik Madi-Okollo. Hewan-hewan ini berasal dari Suaka Badak Ziwa, tempat mereka dibiakkan di bawah pengawasan ketat sebagai bagian dari program pemuliaan yang sukses. Otoritas Margasatwa Uganda (UWA) mengonfirmasi bahwa proses pemindahan berjalan lancar dan melaporkan bahwa keempat badak tiba dalam kondisi kesehatan prima. Keputusan relokasi dari Ziwa didorong oleh fakta bahwa kapasitas tampung suaka tersebut telah mencapai batas maksimal, sehingga pemindahan ke ruang alternatif seperti Ajai menjadi suatu keharusan untuk menjaga kesehatan dan keragaman genetik populasi.

UWA berencana memindahkan total 20 badak putih ke Ajai dalam beberapa bulan mendatang, dengan fase kedua yang melibatkan 16 badak tambahan akan menyusul setelah pemantauan kelompok awal menunjukkan stabilisasi yang berhasil. Cagar Alam Liar Ajai telah melalui persiapan ekstensif untuk menyambut kembalinya herbivora ikonik ini, termasuk peningkatan keamanan yang diperkuat, penyediaan pasokan air yang memadai, dan penyiapan padang rumput yang sesuai. Spesies yang diperkenalkan kembali adalah badak putih selatan, mengingat subspesies asli Uganda, badak putih utara, kini secara fungsional telah punah. Pengenalannya ke Ajai dipandu oleh prinsip kesetaraan konservasi, sebuah pendekatan ekologis yang kredibel untuk memulihkan badak di lanskap Uganda, mengingat secara historis kedua subspesies tersebut pernah menjadi bagian dari spesies yang sama.

Cagar Alam Liar Ajai sebelumnya menampung badak putih utara, yang populasinya musnah akibat perburuan liar dan ketidakamanan pada akhir 1970-an dan 1980-an. Pada tahun 1965, cagar alam ini pernah menampung sekitar 60 badak liar Uganda. Keberhasilan relokasi ini merupakan puncak dari upaya konservasi bertahun-tahun yang dimulai sejak pendirian Rhino Fund Uganda pada tahun 1997, diikuti dengan inisiatif kesadaran publik pada tahun 2001 dan impor dua badak dari Kenya. Populasi di Suaka Badak Ziwa, yang dimulai dengan enam hewan pendiri, telah berkembang menjadi 49 pada akhir tahun 2025 berkat program keamanan dan pemuliaan yang ketat. Pada Desember 2025, delapan badak putih selatan tambahan diimpor dari Afrika Selatan untuk melengkapi populasi pembiakan Ziwa.

Direktur Eksekutif UWA, Dr. James Musinguzi, menyatakan bahwa kembalinya badak ke Ajai adalah momen kebanggaan nasional, yang memulihkan warisan alam vital Uganda dan menandai babak baru dalam perjalanan konservasi negara. Visi yang lebih luas dari UWA adalah membangun beberapa populasi yang berkembang di seluruh negeri, termasuk rencana untuk memperkenalkan kembali badak ke taman nasional yang lebih besar seperti Kidepo Valley dan Murchison Falls di masa depan. Upaya restorasi ekologis yang dilakukan UWA di berbagai area menunjukkan komitmen lembaga tersebut terhadap pemulihan ekosistem secara menyeluruh.

13 Tampilan

Sumber-sumber

  • Noticias Ambientales

  • SWI swissinfo.ch

  • La Prensa de Lara

  • Diario Lara

  • Watchdog Uganda

  • News

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.