Swiss
Pemilih Swiss Menolak Keras Layanan Sipil Wajib dan Pajak Warisan Tinggi
Diedit oleh: gaya ❤️ one
Pada pemungutan suara hari Minggu, 30 November 2025, pemilih di Swiss secara tegas menolak dua inisiatif nasional yang diusulkan untuk perubahan signifikan dalam kebijakan publik dan fiskal negara. Penolakan ini menggarisbawahi preferensi publik terhadap status quo dalam isu-isu yang menyangkut intervensi federal substansial, baik dalam kewajiban warga negara maupun redistribusi kekayaan. Hasilnya menempatkan kedua inisiatif tersebut di antara proposal populer yang paling kuat ditolak dalam seperempat abad terakhir.
Inisiatif pertama, yang dikenal sebagai "Untuk Swiss yang Terlibat (Inisiatif Layanan Sipil)", mengusulkan penerapan layanan sipil wajib bagi pria dan wanita. Layanan ini dapat dipenuhi melalui dinas militer, perlindungan sipil, atau melalui milisi setara di sektor pendidikan, kesehatan, atau layanan sosial. Pemerintah Federal menentang proposal ini, mengutip kekhawatiran mengenai kekurangan tenaga kerja di pasar dan beban biaya pembiayaan yang tinggi. Penolakan terhadap usulan ini sangat masif, mencapai angka 84,15 persen, menjadikannya inisiatif populer kedua yang paling keras ditolak dalam 25 tahun terakhir. Penolakan yang hampir bulat ini mengindikasikan oposisi luas terhadap peningkatan kewajiban layanan nasional yang bersifat mengikat.
Inisiatif kedua, yang diajukan oleh kelompok sayap kiri Young Socialists (Juso) dengan nama "Untuk Kebijakan Iklim Sosial - Didanai Secara Adil Melalui Pajak (Inisiatif untuk Masa Depan)", bertujuan untuk memberlakukan pajak federal sebesar 50% atas warisan dan hadiah yang melebihi ambang batas 50 juta Franc Swiss. Dana yang terkumpul dari pajak ini dialokasikan untuk perlindungan iklim, dengan dua pertiga untuk Konfederasi dan sepertiga untuk Kanton. Menurut perkiraan pemerintah Swiss, hanya sekitar 2.500 wajib pajak di negara tersebut yang memiliki aset di atas ambang batas 50 juta Franc Swiss yang akan terkena dampak kebijakan ini. Penolakan terhadap Inisiatif Pajak Warisan Juso juga sangat kuat, mencapai 78,3 persen, menempatkannya di urutan keenam di antara proposal yang paling jelas ditolak dalam 25 tahun terakhir. Penolakan ini menunjukkan resistensi terhadap langkah redistribusi kekayaan yang signifikan di tingkat federal, meskipun tujuan pendanaannya adalah isu iklim yang populer.
Saat ini, hanya Kanton dan kotamadya yang memungut pajak warisan, dan banyak Kanton memberikan pembebasan bagi keturunan langsung. CEO Econommiesuisse, Monika Ruhl, menyatakan bahwa penolakan ini menegaskan bahwa warga Swiss tidak menginginkan pajak warisan yang berlaku secara nasional. Menanggapi kekalahan ini, partai-partai borjuis menyatakan bahwa isu pajak warisan telah ditutup menyusul hasil pemungutan suara. Sebaliknya, para pendukung inisiatif, termasuk Partai Hijau, mengumumkan rencana untuk mengajukan mosi di Parlemen guna mengusulkan "pajak warisan yang lebih moderat".
Di sisi lain, aliansi borjuis Sicherheit Schweiz (Keamanan Swiss) segera menuntut langkah-langkah untuk memperkuat militer menyusul penolakan terhadap inisiatif layanan sipil. Tokoh industri juga angkat bicara; Alfred Gantner, salah satu pendiri Partners Group, menyerukan pajak kekayaan progresif yang lebih terstruktur, mengusulkan tarif 1% untuk kekayaan di atas 200 juta Franc Swiss, sebagai alternatif terhadap pajak warisan yang dianggap mudah dihindari. Data menunjukkan bahwa di Swiss, pusat pengelolaan kekayaan terkemuka dunia, 1% penduduk terkaya saat ini menguasai 45% total aset, dan 10% wajib pajak menyumbang 53% dari total pendapatan pajak penghasilan, menyoroti konsentrasi kekayaan yang menjadi latar belakang perdebatan ini.
Sumber-sumber
Livesystems
SWI swissinfo.ch
VOL.AT
SRF
Eidgenössisches Finanzdepartement EFD
Liechtensteiner Vaterland
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
