Infrastruktur Komputasi dan Kesenjangan Kognitif Baru dalam Pendidikan 2025
Diedit oleh: Olga Samsonova
Masa depan pendidikan menuntut adaptasi cepat terhadap pergeseran teknologi yang mendasar, terutama dalam pembangunan infrastruktur komputasi yang krusial. Pada November 2025, CEO NVIDIA, Jensen Huang, menggarisbawahi transisi menuju komputasi terakselerasi yang didukung oleh unit pemrosesan grafis (GPU), menandai perubahan paradigma dalam pemrosesan data dan pembelajaran mesin. Pergeseran infrastruktur fundamental ini, yang melibatkan platform seperti Blackwell dan Rubin, menjadi landasan bagi evolusi metodologi pendidikan progresif di seluruh dunia.
Perubahan ini bukan hanya tentang perangkat keras, melainkan tentang bagaimana kemampuan komputasi memengaruhi cara pengetahuan diciptakan dan disebarkan. Percepatan teknologi ini secara inheren memunculkan tantangan sosial yang signifikan, salah satunya adalah munculnya Kesenjangan Digital Kognitif. Kesenjangan baru ini memisahkan mereka yang memiliki kompetensi dalam memahami dan menantang sistem kecerdasan buatan (AI) dari mereka yang hanya memiliki akses pasif terhadap teknologi. UNESCO menyebut kompetensi ini sebagai "literasi AI," yang mencakup keterampilan seperti rekayasa prompt dan pemahaman algoritmik, menjadikannya lebih penting daripada sekadar kepemilikan perangkat. Ketidaksetaraan ini diperparah oleh konsentrasi keahlian AI di lokasi geografis tertentu, menciptakan lapisan ketidaksetaraan baru dalam masyarakat global.
Ancaman keamanan siber yang semakin canggih menyoroti kebutuhan mendesak akan pemikiran kritis dalam kurikulum pendidikan. Kaspersky memprediksi peningkatan penggunaan AI secara ilegal pada tahun 2026, termasuk pembuatan deepfake yang semakin sulit dideteksi dan serangan rekayasa sosial yang canggih. Sebagai ilustrasi nyata dari ancaman ini, kampanye Trojan Maverick pada tahun 2025 menargetkan pengguna WhatsApp di Brasil melalui file ZIP berbahaya, menunjukkan bahwa pengguna yang terdidik secara kognitif adalah garis pertahanan pertama.
Prinsip utama yang muncul dalam pendidikan progresif adalah penekanan pada "augmentasi di atas otomatisasi," sebuah konsep yang didukung oleh institusi seperti Stanford, yang bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas manusia, bukan menggantikannya. Untuk mengatasi ketidakadilan epistemik yang timbul dari opasitas algoritmik—situasi di mana keputusan penting dibuat oleh sistem yang tidak transparan—pendidikan harus memberdayakan individu untuk memahami dan menantang logika sistem tersebut. Para peneliti seperti Silvia Milano dan Carina Prunkl telah mempelajari dampak dari kurangnya transparansi algoritmik ini terhadap pengambilan keputusan sosial.
Sebagai respons terstruktur terhadap tantangan ini, UNESCO meluncurkan kurikulum global pada September 2025 yang dirancang untuk membekali para pendidik dengan perangkat etika dan metodologi untuk integrasi AI yang bertanggung jawab. Inisiatif ini menekankan pentingnya menumbuhkan keragaman kognitif dalam sistem pembelajaran, menolak tekanan untuk memaksakan proses berpikir manusia agar sesuai dengan logika mesin yang kaku. Pendekatan progresif ini berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir lateral dan skeptisisme yang sehat, memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan sebagai penentu tunggal kebenaran atau kemampuan individu. Infrastruktur komputasi yang diperluas oleh NVIDIA menjadi katalis, tetapi keberhasilan adaptasi pendidikan akan bergantung pada kedalaman literasi kognitif yang berhasil ditanamkan kepada peserta didik.
Sumber-sumber
Buttercup
Canaltech
Agenda Digitale
Fox Business
Fox Business
Grand Pinnacle Tribune
CRN
Getty Images
Canaltech
Securelist
CNN Brasil
NewsBytes
AIAQ News
Forbes
Meta Quest Blog
Tom's Guide
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
