G7 dan Mitra Bahas Strategi Lantai Harga Mineral Kritis untuk Diversifikasi Pasokan
Diedit oleh: gaya ❤️ one
Para menteri keuangan dari negara-negara G7 bersama dengan mitra-mitra utama mereka mengadakan pertemuan di Washington pada hari Senin, 12 Januari 2026, untuk merumuskan strategi konkret guna mengurangi ketergantungan global pada Tiongkok dalam rantai pasokan mineral kritis, khususnya unsur tanah jarang. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari rencana aksi G7 yang disepakati pada Juni tahun sebelumnya, dengan tujuan mengamankan rantai pasokan dan memperkuat basis ekonomi masing-masing negara peserta.
Negara-negara yang berpartisipasi, termasuk Uni Eropa, secara kolektif menyumbang 60% dari permintaan mineral kritis global. Namun, Tiongkok mempertahankan dominasi signifikan dalam pemurnian komoditas vital seperti tembaga, litium, kobalt, grafit, dan unsur tanah jarang, dengan persentase pemurnian berkisar antara 47% hingga 87% untuk komoditas tersebut. Diskusi utama di Washington berpusat pada penerapan alat intervensi pasar yang terkoordinasi, dengan usulan utama berupa penetapan lantai harga (price floor) untuk unsur tanah jarang. Langkah ini dirancang untuk memastikan bahwa proyek penambangan dan pemrosesan di luar Tiongkok dapat bersaing secara ekonomis melawan produksi yang disubsidi oleh negara.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, memaparkan pendekatan kebijakan yang mencakup jangka pendek, menengah, dan panjang. Pendekatan ini mencakup penciptaan pasar berdasarkan standar penghormatan terhadap hak tenaga kerja dan hak asasi manusia, serta pemanfaatan instrumen kebijakan seperti dukungan lembaga keuangan publik, insentif pajak, dan langkah-langkah perdagangan. Menteri Keuangan AS, Scott K.H. Bessent, selaku penyelenggara, menekankan perlunya negara-negara mengejar 'de-risking yang bijaksana daripada decoupling' dari Tiongkok, seraya mendesak perbaikan cepat atas defisiensi rantai pasokan yang sangat terkonsentrasi.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, menyusul kontrol ekspor ketat yang diberlakukan Tiongkok terhadap barang-barang penggunaan ganda, termasuk pasokan ke Jepang pada awal Januari 2026. Jepang memiliki pengalaman historis menghadapi pemutusan pasokan mineral kritis oleh Tiongkok pada tahun 2010, sebuah pelajaran yang disampaikan Katayama kepada rekan-rekannya. Selain anggota G7, forum tersebut dihadiri oleh pejabat dari Australia, Meksiko, Korea Selatan, dan India, menandakan perluasan upaya diversifikasi di luar blok G7. Keterlibatan sektor keuangan diindikasikan oleh kehadiran perwakilan dari Bank Ekspor-Impor AS dan JP Morgan.
Meskipun terdapat 'kesepakatan luas' mengenai kebutuhan mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok—yang menguasai sekitar 70% penambangan global dan 90% produksi paduan logam serta magnet mineral langka—konsensus mengenai solusi intervensi pasar yang spesifik belum tercapai, yang tercermin dari tidak adanya pernyataan bersama. Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, mengonfirmasi diskusi mengenai lantai harga, namun mencatat bahwa banyak isu memerlukan tindak lanjut oleh menteri luar negeri dan energi. Sebagai respons konkret, Australia mengumumkan pada hari yang sama (12 Januari 2026) bahwa mereka akan memprioritaskan unsur tanah jarang untuk cadangan strategis senilai A$1,2 miliar (sekitar US$802 juta) yang akan disediakan untuk sekutu.
19 Tampilan
Sumber-sumber
AsiaOne
Reuters
vertexaisearch.cloud.google.com
U.S. Department of the Treasury
Discovery Alert
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
