Diet Dua Hari Berbasis Oat Turunkan Kolesterol LDL Signifikan, Studi Bonn Temukan

Diedit oleh: Olga Samsonova

Sebuah intervensi diet intensif selama dua hari, yang hampir seluruhnya terdiri dari gandum utuh rebus, menghasilkan penurunan signifikan sebesar 10% pada kadar kolesterol LDL subjek penelitian yang mengidap sindrom metabolik. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bonn ini menyoroti potensi intervensi nutrisi yang terfokus dan singkat. Dampak positif penurunan kolesterol tersebut terbukti berkelanjutan, mempertahankan efektivitasnya selama enam minggu penuh setelah periode asupan dosis tinggi tersebut berakhir.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini menguji sekelompok peserta yang menderita sindrom metabolik, suatu kondisi yang ditandai dengan kombinasi kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, serta tingginya kadar glukosa dan lipid darah. Para partisipan menjalani rezim rendah kalori yang ketat, mengonsumsi sekitar 300 gram oat yang direbus dalam air setiap hari, dengan penambahan minimal buah atau sayuran. Selain penurunan kolesterol, kelompok intervensi ini juga melaporkan penurunan tekanan darah dan berat badan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menjalani diet serupa.

Perubahan fisiologis cepat ini diyakini terkait erat dengan modifikasi komposisi mikrobioma usus peserta. Bakteri dalam saluran pencernaan memproses komponen oat untuk menghasilkan senyawa fenolik yang bermanfaat bagi kesehatan. Senyawa fenolik, bersama dengan serat larut seperti beta-glukan yang tinggi dalam oat, berperan penting dalam memengaruhi metabolisme lipid. Beta-glukan meningkatkan viskositas isi usus, yang mendorong ekskresi asam empedu, sehingga memaksa hati menggunakan lebih banyak kolesterol untuk produksi empedu baru, yang pada gilirannya menurunkan kadar LDL dalam darah.

Secara historis, penggunaan oat untuk tujuan terapeutik memiliki preseden; Dokter Jerman Carl von Noorden pernah menggunakan sereal ini untuk mengobati pasien diabetes pada awal abad ke-20. Profesor junior di Institut Ilmu Gizi dan Pangan Universitas Bonn, Marie-Christine Simon, mencatat bahwa metode pengobatan lama ini sempat terabaikan karena ketersediaan obat modern untuk diabetes. Namun, penelitian terbaru ini menegaskan relevansi oat yang berkelanjutan, terutama mengingat sindrom metabolik yang dialami subjek uji memiliki risiko peningkatan diabetes yang melekat.

Studi ini melibatkan total 32 wanita dan pria yang menyelesaikan rezim berbasis oat intensif tersebut. Konsumsi oat, yang kaya akan karbohidrat kompleks, protein, serta berbagai vitamin dan mineral, menawarkan profil nutrisi yang padat. Temuan dari Universitas Bonn ini menyajikan perspektif baru mengenai bagaimana intervensi diet jangka sangat pendek dapat memberikan manfaat kardiovaskular yang bertahan lama, berpotensi membuka jalan bagi strategi manajemen sindrom metabolik yang lebih cepat dan berbasis makanan.

8 Tampilan

Sumber-sumber

  • Knowridge Science Report

  • Universität Bonn

  • EurekAlert!

  • EurekAlert!

  • PubMed

  • Mayo Clinic

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.