Kelelahan Ibu di Indonesia Berakar dari Tuntutan Internal, Kontras dengan Citra Media Sosial

Diedit oleh: Olga Samsonova

Analisis terkini pada tahun 2026 mengindikasikan bahwa kelelahan ekstrem atau burnout yang dialami para ibu di Indonesia masih menjadi isu signifikan. Akar masalah utama dari kelelahan ini bersumber dari tuntutan internal diri sendiri, bukan semata-mata disebabkan oleh kendala jadwal semata. Tekanan sosiokultural mendorong penempatan tugas domestik dan pengasuhan anak di atas prioritas perawatan diri, sebuah realitas yang sangat kontras dengan penggambaran ideal yang kerap dipamerkan di platform media sosial.

Fenomena "ibu sempurna" di Instagram dan TikTok telah menciptakan standar pengasuhan yang sulit dicapai, memicu perasaan tidak memadai dan rasa bersalah yang mendalam pada banyak ibu. Penulis Diana Al Azem secara spesifik mengulas krisis ini, membandingkan konsep ideal "fleximoms"—ibu yang fleksibel, mampu merawat diri, dan berdaya—dengan keterbatasan waktu yang dihadapi ibu sehari-hari. Al Azem berargumen bahwa hambatan fundamental bukanlah sekadar agenda yang terlalu padat, melainkan eksigensi diri yang berlebihan atau tuntutan internal yang sangat tinggi.

Praktisi parenting Nucha Bachri menyoroti beban multiperan ibu yang mencakup profesional, istri, dan pengasuh, yang sering kali menyebabkan pikiran ibu dipenuhi daftar tugas tanpa henti, bahkan saat beristirahat. Kondisi ini diperparah oleh minimnya ruang berbagi yang aman, di mana ungkapan seperti "namanya juga ibu, sabar dong" justru membuat ibu merasa tidak berhak untuk lelah. Untuk merespons situasi ini, Al Azem menganjurkan integrasi perawatan diri melalui praktik "mikromomen" dalam rutinitas harian, seperti meluangkan waktu singkat untuk mendengarkan musik favorit tanpa interupsi.

Profesor klinis di Ohio State College of Nursing, Kate Gawlik, juga menekankan bahwa ilusi ekspektasi pengasuhan sempurna yang dipengaruhi media sosial dapat mengempis ketika ibu menyadari bahwa anak yang bahagia lebih penting daripada anak yang sempurna. Strategi penanggulangan yang efektif berfokus pada pembangunan koneksi dan praktik kerentanan dalam kelompok sebaya atau komunitas ibu yang suportif, sering disebut sebagai "tribe". Pengalaman bersama ini memberikan kelegaan dari penilaian eksternal dan menantang anggapan bahwa upaya untuk mendapatkan kembali identitas pribadi akan merugikan kesejahteraan anak.

Psikolog Saskhya Aulia Prima menegaskan bahwa mengakui perasaan lelah adalah tanda kepedulian terhadap diri sendiri dan anak, bukan indikasi kegagalan sebagai orang tua. Inti dari pemulihan adalah penerimaan batasan: terkadang, ketidakmampuan untuk mencapai setiap target adalah hal yang dapat diterima. Penelitian internasional mengonfirmasi bahwa parental burnout terjadi ketika tuntutan jauh melampaui sumber daya yang tersedia, dengan dukungan sosial yang rendah menjadi prediktor kuat kondisi ini, terutama pada ibu tunggal. Dengan demikian, koneksi dan pengakuan atas keterbatasan menjadi kunci untuk memitigasi tekanan internal yang memicu kelelahan kronis ini.

11 Tampilan

Sumber-sumber

  • EL PAÍS

  • Plataforma Editorial

  • Casa del Libro

  • EL PAÍS

  • Magisnet

  • Google Play

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.