Minyak Alga Menggantikan Minyak Ikan sebagai Sumber Utama Omega-3 Esensial
Diedit oleh: Olga Samsonova
Minyak alga kini muncul sebagai sumber nabati utama untuk asam lemak esensial Omega-3, yaitu DHA dan EPA, secara progresif mengambil alih peran minyak ikan dalam formulasi suplemen nutrisi. Pergeseran ini didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan dan desakan konservasi ekosistem laut yang semakin terancam.
Industri mencatat bahwa segmen bahan baku Omega-3 dari alga merupakan segmen dengan laju pertumbuhan tercepat di pasar global. Valuasi pasar global bahan baku Omega-3 alga mencapai USD 0,97 miliar pada tahun 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 2,96 miliar pada tahun 2032, menunjukkan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) sebesar 13,20% selama periode perkiraan 2024 hingga 2032.
Proses produksi minyak alga yang dilakukan dalam bioreaktor tertutup menjamin tingkat kemurnian produk akhir yang tinggi, bebas dari kontaminan lingkungan laut seperti logam berat yang sering ditemukan pada minyak ikan. Lingkungan budidaya mikroalga yang terkontrol ketat di laboratorium memastikan kebersihan dan keamanan, berbeda dengan lingkungan laut yang rentan terhadap polusi yang tidak terkendali.
Secara nutrisi, minyak alga secara alami mengandung DHA dalam bentuk trigliserida, yang memiliki tingkat penyerapan 300% lebih tinggi dibandingkan bentuk etil ester (EE) yang sering ditemukan pada minyak ikan yang telah dimurnikan untuk mencapai kandungan DHA 60% hingga 65%. Peningkatan skala produksi dan inovasi teknologi telah berhasil menekan biaya operasional, mempercepat adopsi alternatif berkelanjutan ini di kalangan konsumen dan produsen.
Komposisi nutrisi minyak alga menawarkan keunggulan spesifik, terutama bagi populasi rentan seperti ibu hamil dan bayi. Minyak ikan konvensional seringkali memiliki kandungan EPA yang lebih tinggi daripada DHA; EPA berlebih berpotensi melemahkan dinding pembuluh darah bayi dan meningkatkan risiko perdarahan saat melahirkan, meskipun EPA bermanfaat bagi orang tua dengan mengurangi kekentalan darah. Sebaliknya, minyak alga memiliki kandungan EPA yang sangat rendah, menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk kelompok usia tersebut, dengan nutrisi yang setara dengan salmon yang dimasak berdasarkan penelitian.
Upaya industri saat ini berfokus pada integrasi minyak alga ke dalam produk makanan sehari-hari, seperti minuman nabati dan produk susu, untuk memperluas jangkauan pasar. Pengembangan lebih lanjut juga mencakup inovasi produk seperti bubuk omega-3 mikroenkapsulasi yang dirancang untuk menutupi bau dan rasa yang tidak sedap demi meningkatkan penerimaan konsumen. Amerika Utara memegang saham utama pasar bahan baku omega-3 alga dengan CAGR 11,92%, di mana Amerika Serikat memimpin dengan proyeksi peningkatan penjualan suplemen minyak alga sebesar 13% pada tahun 2024, didorong oleh revolusi makanan nabati. Selain itu, kemampuan mikroalga seperti Aurantiochytrium untuk menggantikan minyak ikan dalam pakan akuakultur mendukung praktik perikanan yang berkelanjutan, mengurangi tekanan pada sumber daya laut.
8 Tampilan
Sumber-sumber
Ad Hoc News
Straits Research
dsm-firmenich Health, Nutrition & Care
VitaMoment
FormMed
Global Market Insights Inc.
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
