Kondisi Puncak Buah Rimu Memicu Musim Kawin Kakapo Pertama dalam Empat Tahun
Diedit oleh: Olga Samsonova
Burung beo Kakapo yang terancam punah secara kritis di Selandia Baru telah memulai musim kawin pertamanya dalam kurun waktu empat tahun, sebuah periode yang diperkirakan akan sangat subur. Peristiwa penting ini dipicu oleh fenomena alam yang dikenal sebagai 'mega-mast' atau pembuahan besar-besaran pohon rimu asli, yang secara periodik memicu siklus reproduksi langka spesies tersebut.
Populasi Kakapo saat ini tercatat sebanyak 236 individu per Januari 2026, dengan 83 betina berada dalam usia produktif untuk berkembang biak. Keberhasilan pada musim ini berpotensi menghasilkan lebih dari 50 anak burung, yang akan sangat meningkatkan harapan untuk memperkenalkan kembali spesies ini ke daratan utama Selandia Baru. Kondisi 'mega-mast' pada pohon rimu ini sangat krusial karena buahnya menyediakan nutrisi penting, termasuk kalsium dan vitamin D, yang dibutuhkan induk Kakapo untuk membesarkan anak-anak mereka.
Menghadapi tantangan konservasi yang berkelanjutan, para ahli konservasi kini mengalihkan strategi manajemen dengan mengurangi interaksi langsung manusia dan memberikan ruang lebih besar bagi proses penetasan alami. Perubahan paradigma ini bertujuan untuk meminimalkan ketergantungan spesies terhadap pemeliharaan intensif oleh manusia, sebuah praktik yang secara tidak terduga menyebabkan beberapa individu mengalami imprinting atau keterikatan pada manusia. Ahli biologi Andrew Digby dari Departemen Konservasi Selandia Baru mengantisipasi bahwa kelimpahan buah rimu ini akan mendorong aktivitas perkawinan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan mungkin menjadi musim kawin paling produktif dalam catatan sejarah spesies tersebut.
Program Pemulihan Kakapo, yang dimulai pada tahun 1995, telah menunjukkan keberhasilan signifikan dengan menumbuhkan populasi dari hanya 51 burung menjadi angka saat ini. Siklus perkawinan Kakapo yang biasanya terjadi setiap dua hingga empat tahun ini sangat bergantung pada peristiwa pembuahan besar pohon rimu tersebut, yang sebelumnya terjadi pada tahun 2022. Prediksi tingkat pembuahan mencapai 50–60 persen di ketiga pulau tempat berkembang biak menunjukkan potensi bagi hampir semua betina usia produktif untuk bersarang pada tahun 2026.
Program Pemulihan Kakapo, sebuah kemitraan antara Departemen Konservasi, sponsor korporat seperti Meridian Energy, dan organisasi non-pemerintah seperti The Royal Forest and Bird Protection Society, telah menggunakan teknologi inovatif untuk meningkatkan tingkat kesuburan. Salah satu intervensi adalah penggunaan 'telur pintar' yang memantau suhu dan kelembaban sarang untuk memastikan kondisi optimal bagi penetasan, sebuah pendekatan yang menghasilkan tingkat penetasan lebih tinggi dibandingkan metode alami. Kakapo, yang merupakan burung beo nokturnal dan satu-satunya yang tidak bisa terbang di dunia, secara historis penting bagi Māori dan dianggap sebagai spesies taonga.
Populasi mereka pernah melimpah di seluruh Selandia Baru sebelum pemukim Eropa memperkenalkan predator mamalia seperti kucing, tikus, dan musang, yang hampir memusnahkan mereka. Dengan rentang hidup yang diperkirakan mencapai 60 hingga 90 tahun, pemulihan spesies ini merupakan upaya jangka panjang yang telah menunjukkan kemajuan pesat, dengan peningkatan populasi sebesar 72% dalam delapan tahun terakhir sebelum tahun 2025. Keberhasilan konservasi ini kini membuka prospek nyata bagi kembalinya Kakapo ke daratan utama Aotearoa dalam rentang waktu hidup generasi saat ini.
6 Tampilan
Sumber-sumber
Bisnis.com
Inside The Star-Studded World
Kākāpō breeding season officially underway : Media release 6 January 2026
Rare nocturnal parrots in New Zealand are breeding for the first time in 4 years — here's why | Live Science
Kākāpō breeding season 2026 - Conservation blog
Berry nice to meet you: bumper fruit crop could lead to huge mating season for NZ's endangered kākāpō | New Zealand | The Guardian
Sirocco (parrot) - Wikipedia
Maine.gov
The Guardian
GearJunkie
Navy officials meet with Warner Springs community to address PFAS in water
Newsroom | Winyah Rivers Alliance
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
