Puasa Latih Regulasi Diri dan Kontrol Emosi melalui Aktivitas Korteks Prefrontal

Diedit oleh: Olga Samsonova

Psikologi kontemporer mengkaji praktik puasa keagamaan, seperti yang dilakukan selama Ramadan, sebagai proses regulasi diri yang signifikan. Pembatasan asupan makanan yang disengaja terbukti menstabilkan suasana hati, meningkatkan kemampuan kontrol impuls, dan memperkuat rasa bermakna dalam kehidupan individu. Menurut psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, puasa didefinisikan sebagai bentuk detoksifikasi psikologis yang melibatkan penataan ulang pola pikir dan kebiasaan emosional yang telah terbentuk.

Praktik ini secara fundamental melatih individu untuk menghadapi kondisi tidak nyaman tanpa segera memberikan reaksi impulsif. Keberhasilan dalam menahan berbagai dorongan selama puasa secara langsung meningkatkan aktivitas di Korteks Prefrontal (PFC), area otak yang berfungsi sebagai regulator emosional. Peningkatan aktivitas PFC ini berimplikasi pada pengurangan kecenderungan reaksi spontan, perluasan kapasitas kesabaran, serta mendorong respons yang lebih terukur dan deliberatif. Korteks Prefrontal sendiri merupakan struktur otak yang memegang peranan kunci dalam mengatur perilaku kompleks, emosi, dan pengambilan keputusan, menyusun sekitar 10% dari volume total otak.

Selain dampak neurologis, puasa juga memperkuat mekanisme penanggulangan spiritual atau spiritual coping, yang pada gilirannya mengokohkan fondasi makna hidup. Penelitian mengaitkan pembatasan makan yang disengaja, baik dalam puasa religius maupun intermittent fasting, dengan suasana hati yang lebih stabil dan rasa makna hidup yang lebih intens. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog., menekankan bahwa puasa melatih individu untuk menunda pemuasan terhadap kebutuhan fisik maupun emosional, yang berujung pada penurunan tingkat stres internal.

Konteks sosial yang menyertai puasa, terutama dalam Ramadan, melalui kegiatan komunal seperti berbuka bersama, mempererat koneksi emosional dan rasa memiliki dalam komunitas. Dukungan sosial ini diakui sebagai faktor protektif penting bagi kesehatan mental. Menurut Prof Dr Nurul Hartini SPsi MKes Psikolog dari Universitas Airlangga (UNAIR), situasi kebersamaan saat Ramadan menciptakan lingkungan saling mengingatkan yang mendukung pengendalian emosi lebih baik dibandingkan puasa sunah yang sering dilakukan sendiri. Peningkatan kontrol diri yang dilatih melalui puasa juga dikaitkan dengan penurunan risiko depresi, didukung oleh kesadaran diri yang kuat sebagai benteng pertahanan mental.

Secara klinis, proses neurologis saat berpuasa juga menarik untuk dicermati. Psikiater dr. Revit Jayanti S, Sp.KJ, dari Universitas Internasional Batam, menjelaskan bahwa setelah adaptasi awal, puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein vital untuk fungsi kognitif dan regulasi emosi. Meskipun demikian, tantangan perilaku konsumtif pasca-puasa, seperti menjamurnya pasar takjil, menunjukkan adanya dorongan impulsif yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan sebagai bagian dari latihan pengendalian diri. Oleh karena itu, puasa Ramadan dipandang sebagai momentum psikologis satu bulan penuh untuk meregulasi emosi dan memperbaiki kualitas diri secara mendalam.

5 Tampilan

Sumber-sumber

  • Liputan 6

  • Info Nasional

  • Bloomberg Technoz

  • detikHealth

  • Hello Sehat

  • Hello Sehat

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.