Kerangka Psikologis Menentukan Penuaan Bermartabat dan Kesejahteraan Holistik
Diedit oleh: Olga Samsonova
Penuaan yang bermartabat, atau *graceful aging*, didefinisikan secara fundamental oleh kerangka psikologis internal individu, bukan semata-mata oleh variabel eksternal seperti status kesehatan atau kekayaan materi. Inti dari proses ini berakar kuat pada tahapan perkembangan psikososial yang diuraikan oleh Erik Erikson, khususnya konflik antara Integritas versus Keputusasaan (*Integrity versus Despair*), yang merupakan penentu utama kualitas kehidupan di usia senja. Pencapaian integritas ego, menurut psikologi eksistensial, menuntut seseorang untuk mencapai kedamaian dengan penyesalan masa lalu dan membangun identitas yang melampaui peran-peran sementara, menekankan bahwa makna sejati ditemukan melalui sikap yang diadopsi.
Individu yang berhasil menavigasi proses penuaan dengan baik menunjukkan serangkaian kebiasaan psikologis yang proaktif. Mereka termotivasi untuk menjaga tubuh mereka, memprioritaskan fungsi dan kapabilitas daripada ketakutan akan hilangnya masa muda, sebuah prinsip yang selaras dengan teori *Self-Determination Theory* (SDT). SDT menekankan bahwa kesejahteraan didukung oleh pemenuhan kebutuhan psikologis dasar seperti otonomi, kompetensi, dan keterkaitan (*relatedness*). Selain itu, fokus mereka bergeser dari sekadar penampilan luar menuju kontribusi yang bermakna dan tujuan hidup, sejalan dengan konsep *generativity* Erikson, di mana individu dewasa ingin meninggalkan warisan positif.
Fleksibilitas mental merupakan atribut penting lainnya bagi mereka yang menua dengan anggun; ini adalah kemampuan kognitif untuk beradaptasi secara efektif terhadap perubahan keadaan hidup yang tak terhindarkan. Mereka terbuka terhadap ide-ide baru dan perkembangan sosial, berbeda dengan sikap kaku yang sering menyertai penolakan terhadap penuaan. Penelitian longitudinal komprehensif, seperti studi oleh Universitas Harvard yang melacak subjek sejak tahun 1938, secara konsisten menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial yang sehat adalah prediktor terkuat bagi kebahagiaan jangka panjang, melebihi pencapaian materi sesaat. Hubungan yang aman dan penuh kasih sayang cenderung menghasilkan individu yang lebih sehat dan lebih bahagia secara berkelanjutan.
Pengembangan diri yang berkelanjutan di usia lanjut mencakup upaya perawatan diri (*self-care*) yang efektif, yang didefinisikan oleh teori Orem sebagai tindakan individu untuk mempertahankan kualitas hidup sehat sesuai kebutuhan perkembangan usia. Meskipun penurunan fungsi fisik dapat menghambat kemampuan perawatan diri, individu yang berorientasi pada integritas ego cenderung mempertahankan otonomi ini dengan menghargai fungsionalitas tubuh mereka. Mereka secara aktif terlibat dalam kegiatan yang mendukung perkembangan diri, sebuah manifestasi dari motivasi yang terinternalisasi.
Membuat kedamaian dengan masa lalu dan mengadopsi sikap yang berpusat pada makna adalah penutup siklus psikososial Erikson. Dengan mengintegrasikan pengalaman hidup—baik keberhasilan maupun kegagalan—menjadi narasi yang koheren, individu dapat menghadapi kefanaan hidup dengan rasa puas dan bangga, bukan keputusasaan. Kebermaknaan hidup secara umum juga terbukti berkorelasi positif dengan kebahagiaan secara keseluruhan, bahkan pada populasi yang lebih muda seperti mahasiswa rantau. Dengan demikian, penuaan yang anggun adalah konstruksi psikologis yang dapat dicapai melalui penerimaan diri, fokus pada kontribusi, dan pemeliharaan koneksi sosial yang mendalam.
5 Tampilan
Sumber-sumber
JawaPos.com
Helpful Professor
Forbes
Lumen Learning
University of Rochester
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
