Efek Clever Hans: Isyarat Tubuh Tak Sadar dalam Penelitian Kognisi Hewan

Diedit oleh: Olga Samsonova

Pada awal abad ke-20, seekor kuda bernama Hans di Jerman menarik perhatian publik dan kalangan ilmiah karena kemampuannya yang tampak luar biasa dalam memecahkan soal matematika dan mengidentifikasi bahasa Jerman. Pemilik dan pelatihnya, Wilhelm von Osten, seorang guru matematika dan pelatih kuda amatir, mengklaim bahwa Hans mampu menjawab pertanyaan aritmatika dengan mengetukkan kukunya secara akurat. Selain itu, Hans dilaporkan dapat mengidentifikasi pelukis dan berkomunikasi melalui sistem alfabet numerik, memicu perdebatan luas mengenai batasan kecerdasan hewan.

Mengingat meningkatnya minat publik dan akademisi, Kementerian Pendidikan Jerman membentuk komisi investigasi pada tahun 1904 untuk menguji klaim tersebut secara mendalam. Meskipun pengujian awal oleh komisi tersebut, yang melibatkan ahli zoologi, psikolog, dan manajer sirkus, tidak menemukan adanya tipu muslihat yang jelas, misteri di balik kemampuan Hans terus menjadi topik diskusi. Von Osten, yang juga seorang frenolog, berpendapat bahwa kecerdasan hewan sering kali diremehkan, dan ia telah berupaya membuktikan hipotesisnya melalui pertunjukan publik yang dimulai sejak tahun 1891.

Psikolog Oskar Pfungst, yang saat itu menjabat sebagai asisten filsuf dan psikolog Carl Stumpf, kemudian merancang serangkaian eksperimen yang lebih ketat untuk mengeliminasi pengaruh eksternal yang tidak disadari. Pfungst mengamati bahwa akurasi jawaban Hans menurun drastis ketika penanya berdiri lebih jauh dari posisi normal atau ketika penanya tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Lebih lanjut, Hans gagal memberikan jawaban yang benar ketika ia tidak dapat mengamati reaksi audiens atau penanyanya, mengindikasikan ketergantungan kemampuannya pada pengamatan visual terhadap manusia.

Pfungst menyimpulkan bahwa kecerdasan 'super' Hans bukan hasil dari kemampuan kognitif tingkat tinggi, melainkan respons ahli terhadap isyarat tubuh yang sangat halus dan tidak disadari yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Ketika Hans mendekati jawaban yang benar, ketegangan pada penanya akan mereda, sering kali ditandai dengan perubahan postur atau ekspresi wajah mikro, yang secara tidak sadar memberi sinyal kepada Hans untuk berhenti mengetuk. Respons yang benar ini kemudian selalu diikuti dengan pemberian kubus gula, yang memperkuat perilaku tersebut.

Dokumentasi cermat Pfungst atas fenomena ini dalam publikasinya tahun 1907 menetapkan konsep yang kini dikenal secara luas sebagai "Efek Clever Hans." Efek ini menyoroti kebutuhan mendesak akan desain eksperimental yang teliti, terutama dalam penelitian kognisi hewan, untuk mencegah bias harapan pengamat atau observer-expectancy effect yang dapat mengkontaminasi hasil penelitian. Prinsip ini kini menjadi landasan penting dalam metodologi ilmiah kontemporer, mendorong penggunaan uji coba double-blind untuk memastikan objektivitas dalam pengujian perilaku, baik pada hewan maupun subjek manusia. Studi kasus Hans tetap menjadi contoh klasik dalam psikologi perilaku mengenai bahaya isyarat yang tidak disengaja dalam eksperimen ilmiah.

6 Tampilan

Sumber-sumber

  • Stiri pe surse

  • vertexaisearch.cloud.google.com

  • Grokipedia

  • Britannica

  • Lessons from History

  • Wild Equus - Horses - WordPress.com

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.