Jejak Kuno Kumano Kodo di Jepang: Sintesis Alam dan Spiritualitas
Diedit oleh: Irina Davgaleva
Menelusuri jalur kuno Kumano Kodo di Prefektur Wakayama, Jepang, menyajikan pengalaman peziarahan yang mendalam, melampaui aktivitas pendakian biasa. Perjalanan ini memungkinkan para pejalan kaki mengikuti jejak kaisar dan samurai yang telah melintasi pegunungan berkabut di Semenanjung Kii selama lebih dari seribu tahun. Jaringan rute peziarahan bersejarah ini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, sebuah kehormatan yang hanya dibagi dengan satu rute ziarah lain di dunia, yaitu Camino de Santiago di Spanyol.
Rute-rute ini membentang melintasi lanskap budaya unik yang mencerminkan perpaduan antara Shinto dan Buddhisme, sebuah sinkretisme yang telah terpelihara selama lebih dari 1.200 tahun. Jalur-jalur utama Kumano Kodo, yang merupakan bagian dari "Situs Suci dan Rute Ziarah di Pegunungan Kii," menghubungkan tiga kuil agung yang dikenal sebagai Kumano Sanzan: Kumano Hongu Taisha, Kumano Hayatama Taisha, dan Kumano Nachi Taisha. Rute Nakahechi, yang paling sering dilalui sejak Abad Pertengahan, dulunya merupakan jalur utama bagi keluarga kekaisaran dari Kyoto. Sementara itu, rute Kohechi memotong pusat semenanjung, menghubungkan Koyasan dengan Kumano Sanzan, ditandai dengan jalur curam yang melintasi tiga punggungan dengan elevasi di atas 1.000 meter sepanjang 70 kilometer.
Pemerintah Jepang secara aktif melestarikan elemen-elemen penting dari rute ini, termasuk jalan setapak berbatu, jembatan batu, dan penginapan tradisional. Musim pendakian yang paling direkomendasikan adalah musim semi dan musim gugur, karena menawarkan suhu yang nyaman, menghindari panas ekstrem musim panas dan salju musim dingin. Sepanjang perjalanan, suara aliran air sungai menjadi teman konstan, karena jalur sering mengikuti sungai dan mengarah ke sumber air panas alami yang menyegarkan, atau onsen. Tradisi berendam di onsen setelah seharian berjalan merupakan bagian inti dari pengalaman budaya, memberikan relaksasi sebelum melanjutkan pendakian keesokan harinya. Wilayah ini juga berfokus pada masa depan, dengan rencana untuk mengintegrasikan budaya onsen lebih lanjut ke dalam status UNESCO pada tahun 2026.
Salah satu daya tarik visual paling signifikan adalah Air Terjun Nachi, yang menjulang setinggi 133 meter, menjadikannya air terjun tertinggi di Jepang. Lokasi ini secara historis merupakan tempat pelatihan asketik bagi para biksu Shugendo, sebuah agama sinkretis yang memadukan kepercayaan asli dan asing. Air terjun itu sendiri dipuja sebagai objek pemujaan oleh Kuil Hiro, sebuah kuil tambahan dari Kumano Nachi Taisha, yang menunjukkan penghormatan mendalam terhadap alam yang menjadi dasar pemujaan Kumano.
Selain pemandangan alam, para peziarah mendapatkan kesempatan untuk mengalami jantung spiritual Jepang, mengikuti jalur yang telah dilalui selama lebih dari seribu tahun, mencari penyembuhan dan keselamatan. Para pejalan kaki sering kali menemukan ketenangan kontemplatif dalam pemandangan pegunungan, yang kontras dengan hiruk pikuk kota-kota besar seperti Tokyo atau Kyoto. Perjalanan diakhiri dengan ritual berendam di mata air mineral yang kaya, diikuti dengan santapan tradisional Jepang yang menyajikan hasil laut lokal dan sayuran gunung. Bagi wisatawan modern, Kumano Kodo menawarkan kesempatan untuk menyatu dengan alam dan menyelami sejarah spiritual Jepang yang kaya, dengan beberapa rute yang dapat diselesaikan dalam beberapa hari, meskipun disarankan mengalokasikan minimal 3-4 malam untuk wilayah Kumano. Akses utama ke wilayah ini seringkali melalui Kii-Tanabe di pantai barat Semenanjung Kii, yang dapat dicapai dengan kereta ekspres terbatas JR Kuroshio dari wilayah Kansai.
Sumber-sumber
Българска Телеграфна Агенция
Wikipedia
visit-wakayama.jp
Eliane Revestimentos
The Japan Times
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?
Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
