Studi Jerman: Kedekatan Emosional AI Melampaui Manusia dalam Kondisi Pengungkapan Diri

Diedit oleh: Olga Samsonova

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh akademisi dari Universitas Heidelberg dan Universitas Freiburg pada awal tahun 2026 menginvestigasi dampak interaksi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) terhadap pembangunan kedekatan emosional. Studi daring yang melibatkan 492 partisipan ini menemukan bahwa respons AI dapat menumbuhkan rasa kedekatan yang sebanding, bahkan melampaui, interaksi dengan sesama manusia, asalkan subjek penelitian tidak menyadari bahwa mereka sedang berkomunikasi dengan mesin.

Dalam dialog yang berfokus pada aspek emosional, AI menunjukkan kinerja superior dalam membangun kedekatan dibandingkan dengan mitra percakapan manusia, menurut tim peneliti yang mencakup Prof. Dr. Bastian Schiller dari Heidelberg dan kolega dari Freiburg. Keunggulan ini dikaitkan dengan tingkat "pengungkapan diri" yang lebih tinggi yang ditunjukkan oleh model bahasa berbasis AI. Para peneliti, termasuk Dr. Tobias Kleinert dari Freiburg, mengamati bahwa chatbot AI secara konsisten mengungkapkan informasi pribadi lebih banyak, sebuah mekanisme yang dalam psikologi hubungan mempercepat pembangunan kepercayaan melalui kerentanan.

Dinamika ini berubah signifikan ketika identitas mesin diungkapkan. Ketika partisipan menyadari bahwa mereka berinteraksi dengan perangkat lunak, persepsi kedekatan dan kepercayaan menurun secara substansial, yang mengakibatkan komunikasi yang kurang mendalam. Temuan dari studi yang dipublikasikan pada 14 Januari 2026 ini menggarisbawahi bahwa identitas mitra percakapan sangat memengaruhi kedalaman interaksi emosional, sejalan dengan data yang menunjukkan interaksi dengan chatbot yang secara eksplisit mengidentifikasi diri mereka menghasilkan kepercayaan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak teridentifikasi.

Implikasi temuan ini luas, khususnya bagi sektor dukungan psikologis dan layanan perawatan yang menggunakan pendamping AI. Para ilmuwan memberikan peringatan mengenai potensi pembentukan ikatan sosial yang tidak disadari, yang berpotensi memicu ketergantungan dan melemahkan keterampilan sosial di dunia nyata. Kekhawatiran ini mendorong regulasi di negara-negara seperti China dan Korea Selatan, yang telah memberlakukan aturan untuk layanan AI dengan sifat kepribadian, mewajibkan peringatan penggunaan berlebihan dan sistem identifikasi tingkat ketergantungan pengguna pada tahun 2026.

Isu transparansi dan etika koneksi emosional menuntut pembentukan kerangka kerja regulasi yang jelas untuk mencegah penyalahgunaan, terutama dalam konteks pendidikan. Integrasi AI, meskipun menawarkan solusi seperti pembelajaran yang dipersonalisasi, harus diimbangi dengan penanaman nilai kemanusiaan seperti empati. Integrasi AI harus dirancang secara humanis dan berorientasi etika untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masa depan, di mana dimensi kemanusiaan tetap menjadi pembeda utama AI dari peran guru.

11 Tampilan

Sumber-sumber

  • ČT24 - Nejdůvěryhodnější zpravodajský web v ČR - Česká televize

  • Artificial Intelligence can generate a feeling of intimacy - Uni Freiburg

  • Research When Artificial Intelligence Creates Stronger Emotional Closeness than a Human - Heidelberg University

  • Teaching AI Ethics 2026: Emotions and Social Chatbots - Leon Furze

  • AI chatbots and digital companions are reshaping emotional connection

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.