Atom Abadi Bertemu Batasan Eksistensi Biologis
Diedit oleh: Vera Mo
Hampir seluruh atom yang menyusun tubuh manusia saat ini telah ada sejak sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, berasal dari peristiwa kosmik yang dikenal sebagai Ledakan Besar. Meskipun materi penyusunnya mendekati keabadian, sesuai dengan prinsip kekekalan massa yang dirumuskan oleh Antoine Lavoisier pada abad ke-18, kehidupan itu sendiri tunduk pada batasan waktu yang jelas. Kekekalan materi menegaskan bahwa dalam reaksi kimia, massa total sistem tertutup tetap konstan melalui transformasi bentuk; atom hidrogen dalam darah, misalnya, akan tetap menjadi hidrogen jauh melampaui usia planet Bumi.
Paradoks mendasar terletak pada mengapa susunan atom yang tangguh ini menghasilkan entitas biologis yang fana. Sains modern mengarahkan fokus pada organisasi materi, bukan materi itu sendiri, sebagai penentu kehidupan. Organisme hidup mempertahankan keberadaannya melalui arsitektur yang sangat teratur, yang mencakup molekul yang mampu menyalin diri, mekanisme perbaikan internal, dan metabolisme aktif yang memerlukan suplai energi berkelanjutan. Astrobiolog Betül Kaçar meringkas kehidupan sebagai "kimia yang memiliki memori," di mana eksistensi terikat pada konfigurasi atom yang spesifik.
Keterbatasan biologis ini secara intrinsik terkait dengan Hukum Kedua Termodinamika, yang menyatakan bahwa entropi, atau tingkat ketidakteraturan, cenderung meningkat seiring waktu. Sistem biologis yang sangat terorganisir, seperti tubuh manusia yang terdiri dari sekitar 700 triliun sel, harus terus-menerus melawan kecenderungan alamiah menuju kekacauan ini dengan mengonsumsi energi bebas. Ketika aliran energi ini terhenti, arsitektur kehidupan yang rapuh tersebut mulai terdegradasi, dan pola spesifik yang membentuk 'diri' akan runtuh. Sebagai ilustrasi, sel normal memiliki program bawaan yang membatasi pembelahan hingga sekitar 50 kali sebelum mengalami kematian sel terprogram, sesuai Hukum Hayflick.
Kematian organisme bukanlah pemusnahan atom penyusunnya; sebaliknya, atom-atom tersebut didaur ulang dan didistribusikan kembali untuk membentuk struktur baru, seperti mineral sedimen atau organisme pengurai. Yang hilang adalah identitas terorganisir yang spesifik, bukan materi dasarnya. Fenomena ini menyoroti bahwa batasan waktu berlaku pada konfigurasi dan identitas, bukan pada partikel penyusunnya. Fisikawan peraih Nobel, Erwin Schrödinger, membahas konsep 'negentropi' dalam bukunya yang berpengaruh, *What is Life?* pada tahun 1944, menggarisbawahi hubungan antara entropi dan kehidupan.
Terdapat ironi kosmik mendalam dalam fenomena ini: materi purba yang terbentuk miliaran tahun lalu melalui nukleosintesis di alam semesta awal kini telah membentuk suatu struktur yang mampu merenungkan kefanaannya sendiri. Kita adalah manifestasi langka dari atom-atom Big Bang yang telah berevolusi hingga mampu mempertanyakan misteri kematian, sebuah refleksi dari materi yang secara inheren abadi namun terbungkus dalam wadah yang sementara.
5 Tampilan
Sumber-sumber
Gizmodo en Español
Anexo:Isótopos de hidrógeno - Wikipedia, la enciclopedia libre
Hidrógeno - quimica.es
Entropía | Emisión 26. Materialización de los Derechos Sociales - YouTube
From Atoms to Consciousness: What is Life? - YouTube
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
