Ekspedisi Konfirmasi Habitat Dugong Terbesar di Perairan Maluku Barat Daya

Diedit oleh: Olga Samsonova

Wilayah perairan di Kepulauan Romang dan Demar, yang terletak di Maluku Barat Daya, kini diakui memiliki signifikansi biodiversitas tingkat global. Sebuah ekspedisi ilmiah yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia pada periode 3 Oktober hingga 3 November 2025 mengonfirmasi indikator ekosistem yang sangat baik di kawasan tersebut. Data yang dihimpun menegaskan bahwa perairan Maluku Barat Daya merupakan salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia, didukung oleh pasokan nutrisi yang berasal dari Laut Banda dan Samudra Hindia. Para peneliti mengidentifikasi kawasan ini sebagai benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati laut global di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim.

Temuan kunci dari ekspedisi Romang–Damer 2025 adalah dokumentasi habitat dugong terbesar yang pernah tercatat di Indonesia, dengan skala signifikan secara global. Dalam satu sesi pengamatan menggunakan drone, tim berhasil mengidentifikasi keberadaan 32 individu dugong di sekitar Pulau Romang. Jumlah agregasi dugong dalam satu lokasi ini tergolong langka, mengingat spesies tersebut biasanya ditemukan dalam kelompok kecil, yakni satu hingga tiga ekor. Kehadiran populasi besar ini mengindikasikan bahwa kualitas perairan di sana masih terjaga, mampu menopang spesies kunci seperti dugong, satu-satunya mamalia laut ordo Sirenia yang memakan lamun.

Ekspedisi tersebut juga menyoroti kondisi prima dari ekosistem pendukung kehidupan dugong. Ekosistem lamun, sumber pakan utama dugong, tercatat memiliki tutupan lebih dari 50 persen dan mencakup sembilan dari total 14 jenis lamun yang ada di Indonesia. Selain itu, kondisi terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer berada dalam kategori sedang hingga baik, dengan tutupan tertinggi mencapai 51,4 persen, melampaui rata-rata regional sebesar 34 persen. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya koloni karang yang diperkirakan berusia antara 100 hingga 200 tahun, membuktikan kematangan ekosistem perairan dangkal tersebut.

Kawasan perairan ini memiliki peran ekologis yang sangat strategis, berfungsi sebagai koridor migrasi utama bagi sedikitnya 24 spesies laut yang dilindungi dan terancam punah, termasuk paus biru, orca, hiu martil, dan berbagai jenis penyu. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menegaskan bahwa temuan ilmiah ini menjadi rujukan krusial dalam perumusan kebijakan pemerintah, sejalan dengan implementasi konsep ekonomi biru yang berkelanjutan. Pengelolaan kawasan konservasi di Romang dan Damer, yang sebelumnya disebut sebagai the forgotten island, kini diarahkan untuk berbasis data ilmiah dan partisipatif.

Meskipun kaya akan ekosistem, wilayah ini menghadapi ancaman serius, termasuk praktik penangkapan ikan yang merusak seperti bom ikan, penggunaan racun, serta akumulasi sampah plastik dan jaring hantu. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022 sebagai komitmen pemerintah. Oleh karena itu, perlindungan efektif memerlukan koordinasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga ketahanan ekosistem laut dan menopang kehidupan masyarakat pesisir setempat.

6 Tampilan

Sumber-sumber

  • detik Travel

  • Duta Nusantara Merdeka

  • Berita Terkini Indonesia

  • ANTARA News

  • detikTravel

  • Merdeka.com

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.