Perubahan Kebutuhan Diet pada Lansia Ekstrem Mempengaruhi Peluang Mencapai Seratus Tahun

Diedit oleh: Olga Samsonova

Analisis mendalam terhadap populasi usia sangat tua di Tiongkok mengindikasikan bahwa kebutuhan dietetik mengalami perubahan signifikan seiring bertambahnya usia ekstrem, yang secara langsung memengaruhi peluang untuk mencapai umur panjang. Studi prospektif bersarang studi kasus-kontrol ini melibatkan 5.203 peserta berusia 80 tahun ke atas dari Survei Panjang Umur Sehat Longitudinal Tiongkok (Chinese Longitudinal Healthy Longevity Survey). Penelitian yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition ini membandingkan mereka yang berhasil mencapai usia 100 tahun (centenarian) dengan mereka yang meninggal sebelum usia tersebut, dengan penelusuran data dari tahun 1998 hingga 2018.

Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa individu yang mengikuti pola makan bebas daging (vegetarian) memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk mencapai usia seabad dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi daging (omnivora). Secara spesifik, kelompok vegan menunjukkan peluang 29 persen lebih kecil untuk mencapai usia 100 tahun dibandingkan omnivora, sementara vegetarian yang masih mengonsumsi telur dan produk susu (ovo-lacto-vegetarian) memiliki peluang 14 persen lebih rendah. Secara keseluruhan, vegetarian memiliki rasio peluang (odds ratio) 0,81 untuk menjadi centenarian relatif terhadap omnivora.

Perbedaan ini muncul meskipun diet berbasis tumbuhan secara umum sering dikaitkan dengan pencegahan penyakit kronis pada populasi umum. Namun, korelasi negatif antara diet non-daging dan status centenarian ini tidak berlaku secara universal; asosiasi signifikan tersebut hanya teramati pada subkelompok peserta yang mengalami kekurangan berat badan, yaitu mereka yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) di bawah 18,5 kg/m2. Bagi lansia dengan BMI normal atau kelebihan berat badan (BMI ≥18,5 kg/m2), tidak ada perbedaan signifikan dalam harapan hidup yang teramati dibandingkan dengan kelompok omnivora.

Hal ini mengarahkan para peneliti, termasuk Dr. Xiang Gao dari Universitas Fudan, untuk menyimpulkan bahwa defisit nutrisi spesifik, bukan penghindaran daging semata, adalah masalah utamanya, terutama pada lansia yang sangat tua dan rentan. Perubahan fisiologis pada usia sangat lanjut, seperti penurunan fungsi organ dan massa otot (sarkopenia), meningkatkan risiko malnutrisi dan kerapuhan (frailty), sehingga menggeser fokus nutrisi ke pemeliharaan otot dan asupan nutrisi esensial.

Makanan sumber hewani, seperti yang dikonsumsi oleh kelompok pesco-vegetarian (yang mengonsumsi ikan) dan omnivora, menyediakan protein dengan bioavailabilitas tinggi, Vitamin B12, Kalsium, dan Vitamin D, yang sangat penting untuk melawan kehilangan massa otot pada usia sangat tua. Sebagai contoh, kebutuhan protein untuk lansia di atas 65 tahun direkomendasikan antara 1,0 hingga 1,5 gram per kilogram berat badan per hari, lebih tinggi dari rata-rata dewasa muda (0,8 g/kg BB), untuk mengimbangi penurunan respons penyerapan asam amino.

Implikasi dari temuan ini menegaskan tesis bahwa strategi nutrisi untuk umur panjang harus disesuaikan secara ketat dengan tahapan kehidupan. Sementara diet nabati mungkin optimal untuk dewasa muda dalam pencegahan penyakit, individu yang memasuki dekade kesembilan dan kesepuluh kehidupan memerlukan perencanaan diet yang cermat untuk menghindari kesenjangan nutrisi kritis. Memastikan kecukupan protein dan mikronutrien penting, yang mungkin memerlukan diversifikasi makanan termasuk asupan produk hewani dalam jumlah sedang, menjadi fondasi untuk mempertahankan ketahanan fisik dan fungsionalitas di usia 90-an. Populasi lansia di Tiongkok merupakan salah satu yang terbesar secara global, menekankan urgensi penyesuaian pedoman gizi nasional untuk menghadapi penuaan populasi yang cepat.

7 Tampilan

Sumber-sumber

  • unian

  • Science Alert

  • Good.is

  • ScienceDaily

  • Newzapiens

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.