Ilmu Kuliner Mengoreksi Mitos Umum dalam Persiapan Pasta

Diedit oleh: Olga Samsonova

Verifikasi kuliner oleh para ahli kini mengonfirmasi bahwa sejumlah praktik umum dalam menyiapkan pasta sesungguhnya sudah usang atau bahkan kontraproduktif terhadap hasil akhir yang diinginkan. Salah satu mitos yang paling mengakar adalah menguji kematangan pasta dengan melemparkannya ke dinding; metode ini terbukti tidak akurat sama sekali. Metode satu-satunya yang diakui andal untuk mencapai tekstur 'al dente' yang sempurna adalah melalui pencicipan langsung saat proses perebusan berlangsung.

Sebuah praktik yang sangat dianjurkan untuk dihindari adalah menambahkan minyak zaitun ke dalam air rebusan pasta. Tindakan ini secara signifikan menghambat kemampuan saus untuk menempel secara optimal pada permukaan mi pasta setelah matang. Minyak yang mengapung di permukaan air cenderung melapisi setiap helai pasta, menjadikannya licin dan mencegah emulsi saus terbentuk dengan baik.

Sebaliknya, penambahan garam pada air perebusan merupakan langkah fundamental untuk membumbui pasta secara internal. Para pakar kuliner menyarankan untuk mencapai tingkat salinitas yang menyerupai air laut ringan, meskipun tidak berlebihan, untuk memastikan rasa meresap dari luar hingga ke inti pasta. Untuk setiap liter air, disarankan sekitar 10 gram garam, yang setara dengan larutan garam 1 persen.

Kebiasaan membilas pasta yang sudah matang dengan air dingin juga sangat tidak dianjurkan oleh para profesional. Proses pembilasan ini secara efektif menghilangkan lapisan pati yang menempel di permukaan luar pasta, padahal pati inilah yang sangat dibutuhkan untuk membantu saus melekat sempurna. Dalam konteks persiapan hidangan yang dipanggang seperti lasagna, saran kontemporer menunjukkan bahwa proses pra-perebusan lembaran pasta seringkali tidak diperlukan asalkan saus yang digunakan sudah menyediakan kelembapan yang memadai selama proses pemanggangan di oven berlangsung.

Untuk mencapai tekstur 'al dente' yang merupakan istilah Italia berarti 'cocok dengan gigi', pasta harus memiliki kekenyalan yang pas, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras. Pasta yang matang sempurna ini akan terasa kenyal saat digigit, dan jika dipotong, bagian tengahnya mungkin masih menunjukkan sedikit titik putih yang merupakan pati yang belum sepenuhnya termasak. Selain itu, air rebusan pasta itu sendiri menyimpan potensi besar yang sering terbuang; air ini kaya akan pati dan mineral, yang dapat dimanfaatkan untuk mengentalkan saus pasta atau menambah rasa pada adonan roti atau pizza.

Untuk mencegah pasta saling menempel tanpa minyak, kuncinya adalah menggunakan volume air yang cukup banyak—misalnya, 2 liter air untuk 200 gram pasta—dan mengaduk pasta secara berkala selama 30 hingga 60 detik pertama setelah dimasukkan ke dalam air yang telah mendidih. Memahami nuansa ini, seperti yang ditekankan oleh para koki profesional, mengubah proses memasak pasta dari sekadar rutinitas menjadi sebuah aplikasi ilmu kuliner yang presisi. Mengabaikan detail seperti salinitas air atau penghilangan pati akan menghasilkan hidangan yang kurang maksimal dalam hal rasa dan tekstur, terlepas dari kualitas saus yang disajikan.

3 Tampilan

Sumber-sumber

  • CNET

  • CNET

  • Serious Eats

  • Pasta Class Florence

  • FODMAP Everyday

  • Newcomer Magazine

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.