Dewasa Muda Tinggalkan Institusi Agama Demi Pencarian Makna Transendental

Diedit oleh: Olga Samsonova

Sebuah riset internasional terkini mengindikasikan lonjakan signifikan dalam praktik spiritualitas di kalangan dewasa muda berusia delapan belas hingga dua puluh sembilan tahun selama kurun waktu lima tahun terakhir. Data survei yang mencakup delapan negara menunjukkan bahwa hampir separuh responden, yakni 50 persen, melaporkan peningkatan kedalaman spiritualitas pribadi mereka. Fenomena ini dikaitkan dengan meningkatnya kesadaran kritis generasi muda terhadap isu-isu sosial kontemporer, termasuk konflik bersenjata dan korupsi sistemik global.

Generasi muda, yang dijuluki sebagai 'generasi pencari', secara aktif mengeksplorasi bentuk-bentuk religiusitas baru yang dianggap lebih sesuai dengan preferensi mereka di era disrupsi 4.0. Tren ini menggambarkan pergeseran paradigma di mana kaum muda cenderung menjauhi struktur keagamaan yang formal dan konservatif, namun pada saat yang sama, mereka aktif mencari pengalaman transendensi dan pemenuhan spiritualitas batin. Sikap ini sering diartikan sebagai 'mencintai tetapi tidak memiliki' institusi agama, karena mereka mengaitkan spiritualitas dengan ketenangan batin tanpa terikat dogma tertentu.

Ketidakpuasan terhadap kemapanan institusi agama yang cenderung konservatif mendorong pencarian bentuk keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Menanggapi pergeseran ini, lembaga-lembaga keagamaan mulai mengadopsi strategi komunikasi yang lebih modern dan relevan untuk menjangkau kerinduan spiritual tersebut. Adaptasi mencakup upaya merekontekstualisasi narasi historis ke dalam latar modern dan menyelaraskan pesan dengan tokoh-tokoh budaya populer yang menyentuh tema spiritual. Pendekatan pastoral juga mengalami modernisasi, dengan pemuka agama menggunakan bahasa yang lebih mudah diakses untuk menghubungkan teks suci dengan realitas kehidupan sehari-hari kaum muda.

Data menunjukkan lanskap spiritualitas yang kompleks; spiritualitas non-institusional dapat berkembang pesat bahkan di kalangan individu yang mengidentifikasi diri sebagai non-percaya. Tekanan hidup modern, seperti tuntutan ekonomi dan pekerjaan di perkotaan, semakin mendesak kebutuhan akan ruang aman dan dukungan emosional-spiritual. Oleh karena itu, komunitas yang menawarkan kegiatan praktis, edukatif, dan sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari semakin dibutuhkan untuk membantu generasi muda mencapai keseimbangan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kaum milenial, terutama saat menghadapi krisis seperempat baya antara usia 21 hingga 41 tahun, mengalami kebangkitan spiritualitas ketika rasionalitas dan logika yang diandalkan tidak lagi memadai sebagai panduan hidup. Hal ini menegaskan bahwa meskipun terjadi penarikan diri dari institusi, kebutuhan mendasar akan makna transendental tetap menjadi inti dari pengalaman hidup generasi muda saat ini, menuntut inovasi berkelanjutan dari semua pihak terkait.

3 Tampilan

Sumber-sumber

  • Valencia Plaza

  • Valencia Plaza

  • Apple Podcasts

  • EL PAÍS

  • Omnes

  • Pontificia Università della Santa Croce - PUSC

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.