Trump Mengklaim Kemajuan dalam Dialog Tidak Langsung AS-Iran yang Dimediasi Pakistan
Diedit oleh: Tatyana Hurynovich
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kemajuan positif dalam perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran, sebuah perkembangan yang dilaporkan oleh Financial Times pada hari Minggu waktu setempat. Trump, yang saat ini menjabat masa jabatan kedua yang tidak berurutan, mengonfirmasi bahwa utusan dari Pakistan memfasilitasi komunikasi tersebut, meskipun ia tidak merinci detail mengenai kesepakatan gencatan senjata segera untuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Optimisme Trump muncul dari klaim bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam waktu yang relatif cepat, sejalan dengan upaya diplomatik yang intensif.
Di tengah klaim kemajuan diplomatik ini, tekanan militer Amerika Serikat terhadap Iran tetap berlanjut. Trump menyatakan bahwa militer AS telah menargetkan 13.000 sasaran dan masih memiliki sekitar 3.000 target tersisa yang akan diserang. Pada hari yang sama, Trump menyoroti bahwa Iran telah mengizinkan 20 kapal tanker berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz sebagai 'tanda penghormatan' kepada Gedung Putih, sebuah angka yang ia sebut telah digandakan dari izin awal.
Eskalasi konflik dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026, yang menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak global. Sebagai respons atas serangan yang diklaim telah menghancurkan sebagian besar Angkatan Laut dan Udara Iran, Iran membalas dengan mengganggu jalur pelayaran. Jenderal Purnawirawan Seyyed Majid Ibn Reza, Menteri Pertahanan Iran yang baru diangkat pada 2 Maret 2026, mengecam 'agresi militer brutal' dalam panggilan telepon dengan Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler, menegaskan hak Iran untuk membela diri.
Peran mediasi Pakistan telah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri mereka, Ishaq Dar, yang menyatakan bahwa pembicaraan tidak langsung AS-Iran berlangsung melalui pesan yang disampaikan oleh Islamabad, termasuk proposal 15 poin dari AS yang sedang dipertimbangkan Teheran. Pakistan mengambil peran ini karena mediator regional lain seperti Qatar dan Oman berada di bawah tekanan serangan Iran. Upaya Islamabad ini didukung oleh Turki dan Mesir, dengan fokus utama adalah deeskalasi dan stabilitas pasokan energi global. Namun, Iran dilaporkan bersikap sangat hati-hati karena kurangnya kepercayaan terhadap komitmen jangka panjang Washington.
Meskipun narasi optimis dari Trump, terdapat laporan yang kontradiktif; beberapa laporan menunjukkan Iran menolak proposal AS dan mengajukan tuntutan balasan. Tekanan militer terus meningkat, dengan Pentagon mempertimbangkan pengerahan 10.000 personel tambahan, sementara serangan Israel terhadap target sipil di Iran membayangi upaya perdamaian. Krisis di Selat Hormuz telah menyebabkan guncangan ekonomi global yang signifikan, dengan harga minyak Brent melonjak lebih dari 40% dibandingkan level sebelum perang sebesar US$70 per barel, menjadi tantangan politik besar bagi pemerintahan Trump di dalam negeri.
3 Tampilan
Sumber-sumber
Asian News International (ANI)
Asian News International (ANI)
Middle East Eye
UANI
WION News
The Hindu
The Guardian
Financial Times
Council on Foreign Relations (CFR)
Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



