Bintang-bintang merah mungil, yang merupakan populasi terbanyak di Galaksi kita, tiba-tiba menampakkan sisi yang tak terduga. Para astronom yang menganalisis data satelit TESS berhasil menemukan empat raksasa gas sekaligus—tiga planet seukuran Saturnus yang hangat dan satu super-Jupiter—yang mengorbit bintang kerdil M muda. Penemuan ini mematahkan anggapan umum bahwa bintang-bintang kecil tersebut tidak memiliki cukup material untuk membentuk planet seberat itu.
Kerdil M muda merupakan kategori bintang kecil yang relatif panas di antara kelompok bintang kerdil merah, dengan pancaran cahaya lebih redup dari Matahari namun memiliki usia yang sangat panjang. Planet-planet sejenis Saturnus yang hangat ini berada pada jarak ideal, di mana atmosfer mereka tidak mendidih akibat panas bintang maupun membeku dalam kekosongan ruang angkasa yang dingin. Salah satu dunia baru ini memiliki bobot yang jauh melampaui Jupiter kita, dengan orbit yang memungkinkan ia mempertahankan lapisan gas yang tebal. TESS mendeteksi keberadaan mereka melalui penurunan cahaya bintang yang khas, yang terjadi saat planet-planet tersebut melintas di depan cakram bintang bak bayangan kecil yang lewat secara teratur.
Tim ilmuwan dilaporkan telah menyaring sinyal-sinyal dari ribuan bintang yang diamati dengan sangat teliti dan mengonfirmasi temuan tersebut melalui pengukuran tambahan. Tampaknya, planet-planet ini terbentuk di dalam cakram protoplanet yang perilakunya berbeda dari prediksi model-model lama. Sebelumnya, para ahli meyakini bahwa cakram di sekitar bintang bermassa rendah terlalu miskin material untuk bisa mengumpulkan inti yang masif dan menyelimutinya dengan lapisan gas yang sangat tebal.
Temuan ini mengubah peta pemahaman kita mengenai pembentukan planet secara keseluruhan. Jika raksasa gas dapat terbentuk dengan mudah bahkan di sekitar bintang paling umum di Galaksi, berarti proses akresi jauh lebih fleksibel daripada yang kita duga sebelumnya. Mengingat bintang kerdil M mencakup sekitar tiga perempat dari seluruh populasi bintang, sistem serupa mungkin jumlahnya jauh lebih banyak dari perkiraan. Satu kesimpulan yang jelas adalah teori-teori kita saat ini memerlukan perombakan besar untuk menjelaskan bagaimana bintang kecil mampu mengasuh tetangga planet yang begitu besar.
Menariknya, suhu yang moderat di dunia-dunia ini memungkinkan terjadinya reaksi kimia atmosfer yang kompleks, mulai dari pembentukan awan metana hingga potensi munculnya angin dan siklon. Di masa depan, pengamatan spektral akan membantu kita meneliti atmosfer tersebut lebih dalam guna memahami komposisi kimianya. Data semacam ini akan menjadi kontribusi berharga bagi ilmu planetologi komparatif dan memberikan gambaran tentang seperti apa rupa keluarga planet yang tipikal di Galaksi kita.
Setiap penemuan baru mengajarkan kita untuk memandang bintang-bintang yang tampak biasa dengan rasa takjub yang tulus dan terus melakukan pencarian, karena alam semesta selalu punya cara untuk mengejutkan kita.
