Kerangka Kerja Baru untuk Konservasi Jalur Migrasi Laut Disahkan di Brasil

Diedit oleh: Olga Samsonova

Kerangka Kerja Baru untuk Konservasi Jalur Migrasi Laut Disahkan di Brasil-1

Pemerintah internasional secara resmi mengadopsi strategi konservasi perintis yang berfokus pada rute migrasi spesies, yang disebut jalur penerbangan laut (marine flyways). Pendekatan ini dirancang untuk mengatasi tantangan perlindungan yang terfragmentasi bagi spesies seperti burung laut, yang melintasi batas-batas politik tak terhitung jumlahnya di seluruh cekungan samudra yang luas.

Indonesia merupakan bagian krusial dari Jalur Terbang Asia Timur-Australasia, yang membentang dari Rusia timur dan Alaska hingga Australia dan Selandia Baru, melewati 22 negara. Para peneliti telah mengidentifikasi enam jalur penerbangan laut utama yang mencakup Samudra Atlantik, Pasifik, Hindia, dan Selatan, yang secara kolektif menghubungkan pergerakan 151 spesies burung laut. Kerangka kerja inter-pemerintah yang baru ini, yang menggarisbawahi perlunya konektivitas untuk kelangsungan hidup spesies, secara eksplisit mengakui lebih dari 1.300 Kawasan Keanekaragaman Hayati Utama (Key Biodiversity Areas).

Pengesahan kerangka kerja ini terjadi pada Konferensi Para Pihak (COP) ke-15 Konvensi Spesies Migratori (CMS) yang diselenggarakan di Campo Grande, Brasil, dari tanggal 23 hingga 29 Maret 2026. Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil, Marina Silva, menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam melindungi spesies yang tidak mengenal batas negara. Ancaman utama yang dihadapi spesies di sepanjang jalur penerbangan ini meliputi spesies invasif, penangkapan samping (bycatch) dalam kegiatan perikanan, serta dampak signifikan dari perubahan iklim.

Laporan Sementara Keadaan Spesies Migratori Dunia tahun 2026, yang dipresentasikan pada COP15, menunjukkan bahwa hampir separuh (49%) dari semua spesies yang terdaftar dalam CMS menunjukkan tren populasi menurun, dengan hampir seperempat terancam punah. Perubahan iklim telah terbukti mematikan bagi burung laut melalui kelaparan, ketidakmampuan bereproduksi, gelombang panas, dan cuaca ekstrem, seperti yang terlihat pada albatros di Hawaii dan puffin di Maine.

Menyikapi adopsi kerangka kerja ini, BirdLife International telah menjadwalkan penyelenggaraan KTT Jalur Penerbangan Global (Global Flyways Summit) di Nairobi, Kenya, pada bulan September 2026, untuk mempercepat implementasi tindakan konservasi yang telah disepakati. Sementara itu, GLF Africa 2026, yang berfokus pada penggembalaan lahan penggembalaan, akan diselenggarakan di Nairobi pada 5 hingga 8 Mei 2026. Selain itu, BirdLife International juga mendukung Global Birdfair 2026 di São Tomé pada 10 hingga 12 Juli 2026, yang berfokus pada upaya konservasi burung endemik.

Keberhasilan konservasi burung bermigrasi bergantung pada perlindungan habitat vital, seperti lahan basah yang menjadi 'rumah sementara' bagi burung air untuk beristirahat dan mengisi energi. Pengalihan fungsi lahan basah saat ini dianggap sebagai ancaman terbesar bagi burung air migran, melebihi ancaman perubahan iklim. Dengan adanya kerangka kerja baru ini, diharapkan akan ada peningkatan komitmen untuk mengurangi ancaman dari perikanan, penebangan, dan eksploitasi sumber daya alam lainnya, sejalan dengan seruan untuk program pemulihan mendesak seperti penangkaran dan restorasi habitat.

6 Tampilan

Sumber-sumber

  • Mongabay

  • Impactful Ninja

  • Mongabay

  • Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals

  • Impactful Ninja

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.