Sindrom Penundaan Kepuasan: Dampak pada Kesejahteraan Mental Saat Ini
Diedit oleh: Olga Samsonova
Konsep yang dikenal sebagai Sindrom Penundaan Kepuasan (DGS) merujuk pada pola keyakinan dan skenario kehidupan persisten yang mendorong individu untuk terus-menerus menantikan momen masa depan yang dianggap lebih baik sebagai satu-satunya sumber pemenuhan diri. Kecenderungan ini secara fundamental mengubah persepsi terhadap masa kini, menjadikannya sekadar tahap persiapan menuju masa depan yang seringkali tidak terwujud, yang mengakibatkan penundaan kebahagiaan dan kepuasan sejati. Fenomena ini menyoroti bagaimana orientasi waktu yang berlebihan ke depan dapat mengikis kualitas pengalaman hidup saat ini.
Konsep DGS pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Vladimir Serkin pada tahun 1997, setelah ia melakukan studi mendalam terhadap populasi di wilayah Timur Jauh Rusia yang secara konsisten menempatkan kesejahteraan masa depan di atas pengalaman hidup saat ini. Penelitian awal Serkin ini memberikan landasan penting untuk memahami bagaimana orientasi temporal yang ekstrem dapat membentuk pola perilaku dan emosional seseorang. Meskipun berakar dari studi spesifik, implikasi dari penundaan pemenuhan ini kini meluas ke berbagai konteks sosial dan psikologis kontemporer.
Tren terkini pada tahun 2026 mengindikasikan bahwa DGS telah menyebar luas, dengan perkiraan memengaruhi hingga 90 hingga 95 persen populasi dalam berbagai tingkatan intensitas. Individu yang teridentifikasi mengalami DGS secara rutin melaporkan adanya perasaan bersalah yang signifikan terkait potensi diri yang tidak terpenuhi, penurunan nyata dalam harga diri, dan peningkatan kecemasan yang berfokus pada prospek masa depan. Selain itu, salah satu pemicu modern yang sering disebut adalah penghindaran tanggung jawab dunia nyata melalui pelarian ke dalam lingkungan virtual, sebuah mekanisme pelarian yang semakin relevan di era digital.
Kesehatan mental yang stabil sangat bergantung pada kemampuan individu untuk mengelola tekanan dan berfungsi secara produktif, sebuah kondisi yang terganggu oleh DGS. Gangguan kesehatan mental emosional, yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan, pada populasi usia 15 tahun ke atas di Indonesia saja telah mencapai sekitar 6,1% atau setara dengan 11 juta orang, menunjukkan betapa rentannya kesejahteraan psikologis terhadap pola pikir tertentu.
Kemampuan menunda kepuasan, atau delayed gratification, yang diperkenalkan oleh Walter Mischel dan timnya dari Stanford University melalui eksperimen marshmallow pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, secara historis dikaitkan dengan hasil positif seperti skor akademik yang lebih tinggi dan kemampuan mengatasi stres yang lebih baik. Untuk melawan dampak negatif DGS dan mendorong kehidupan yang lebih utuh, para praktisi psikologi merekomendasikan pendekatan multifaset yang menekankan tindakan di momen sekarang daripada bergantung pada ekspektasi masa depan.
Strategi ini mencakup fokus pada pencapaian tujuan jangka pendek yang dapat segera diakses, secara sadar menolak akumulasi sumber daya hanya berdasarkan skenario 'jika-suatu-saat', dan secara sengaja memilih tindakan yang memberikan nilai intrinsik pada saat ini juga. Menata lingkungan kerja untuk menghindari distraksi, seperti ponsel atau media sosial, juga merupakan langkah konkret untuk meningkatkan fokus dan memutus siklus penundaan, sebagaimana disarankan dalam strategi mengatasi prokrastinasi. Dengan demikian, penekanan bergeser dari penumpukan untuk masa depan yang tidak pasti menuju realisasi nilai dalam setiap momen yang dijalani, sebuah pergeseran kognitif yang esensial untuk kesehatan mental yang optimal.
16 Tampilan
Sumber-sumber
bb.lv
BB.LV
LiveLib
B17
Высшая школа экономики
Vakas-tools
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
