Aktivitas Fisik Memodifikasi Pemrosesan Stres dan Meningkatkan Ketahanan Mental

Diedit oleh: Olga Samsonova

Penelitian psikologi terkini menggarisbawahi bahwa aktivitas fisik secara substansial meningkatkan kesehatan mental dengan memodifikasi fundamental cara individu memproses tekanan hidup dan pikiran yang mengganggu. Temuan ini menempatkan gerakan tubuh sebagai komponen terapeutik yang vital dalam intervensi kesehatan mental. Studi menunjukkan bahwa olahraga mengurangi manifestasi gejala psikiatri dengan meredakan persepsi stres yang dialami individu sekaligus secara aktif menginterupsi pola pemikiran negatif yang berulang, atau yang dikenal sebagai ruminasi.

Sebagai ilustrasi, sebuah studi pada remaja usia 15 hingga 18 tahun menemukan bahwa kelompok eksperimen yang melakukan olahraga teratur tiga kali seminggu selama satu minggu mengalami penurunan skor stres rata-rata dari 21,3 menjadi 13,4, dan skor kecemasan turun dari 18,7 menjadi 10,2 dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini mengindikasikan bahwa manfaat psikologis berakar pada peningkatan spesifik dalam pemrosesan kognitif dan emosional, yang kemudian memperkuat resiliensi kognitif-afektif di bawah tekanan.

Implikasi temuan ini sangat luas, terutama mengingat data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan bahwa antara 10 hingga 20 persen remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Olahraga teratur berpotensi menjadi strategi pencegahan yang efektif; bahkan studi menunjukkan bahwa olahraga dapat mengobati depresi ringan hingga sedang seefektif obat antidepresan, namun tanpa efek samping yang melekat.

Aktivitas fisik memengaruhi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), yang memediasi sistem limbik pengontrol suasana hati dan amigdala pemicu rasa takut sebagai respons terhadap stres, sekaligus meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Sebuah program intervensi selama enam bulan yang mengombinasikan latihan aerobik dengan bimbingan perilaku menunjukkan peningkatan kesehatan mental yang berkelanjutan saat evaluasi lanjutan. Peningkatan ini sepenuhnya dapat dijelaskan oleh penurunan terukur dalam stres yang dirasakan dan penurunan dalam ruminasi negatif partisipan.

Mekanisme yang mendasari selaras dengan hipotesis inokulasi stres, di mana aktivitas rutin secara bertahap mengadaptasi sistem respons stres tubuh sehingga menjadi kurang reaktif terhadap pemicu stres di masa depan. Penelitian lebih lanjut mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik memicu pelepasan neurotransmiter dan hormon penting seperti endorfin, dopamin, dan serotonin. Sebagai contoh, penelitian oleh Craft dan Landers pada tahun 1998 menemukan bahwa olahraga mengurangi tingkat stres dan meningkatkan suasana hati positif melalui pelepasan zat-zat kimia ini.

Penelitian kualitatif dengan pendekatan narrative inquiry pada 30 anggota fithub BSB Semarang menegaskan bahwa aktivitas fisik memberikan pengaruh positif signifikan terhadap penurunan tingkat stres, peningkatan suasana hati, dan kualitas tidur. Hal ini menggarisbawahi bahwa olahraga memberikan kendali psikologis atas tubuh, sebuah faktor krusial saat seseorang mengemban tanggung jawab atau menyelesaikan masalah. Dengan demikian, integrasi aktivitas fisik yang terukur—bahkan hanya 30 menit intensitas sedang tiga hari seminggu—dapat menjadi fondasi kokoh untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

9 Tampilan

Sumber-sumber

  • in.gr

  • ReachLink

  • Brainfx

  • PMC

  • Psychiatrist.com

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.