Dinamika Otak Praktisi Meditasi Mencapai Kritisitas Optimal

Diedit oleh: Olga Samsonova

Penelitian psikologis mutakhir mengonfirmasi bahwa meditasi memberikan dampak substansial pada struktur dan fungsi otak, melampaui manfaat pengurangan stres yang telah lama diakui. Studi yang memanfaatkan teknologi magnetoencephalography (MEG) resolusi tinggi mengidentifikasi bahwa praktik meditasi secara progresif meningkatkan konektivitas neuronal, mengarahkan praktisi menuju kondisi yang disebut sebagai 'kritisitas otak' atau brain criticality.

Kritisitas otak merepresentasikan titik keseimbangan ideal di mana jaringan saraf memiliki stabilitas yang cukup untuk memastikan transfer informasi yang andal, namun tetap mempertahankan fleksibilitas tinggi untuk adaptasi kognitif yang cepat. Para peneliti secara spesifik mengamati sekelompok biksu ahli yang mempraktikkan dua modalitas meditasi utama: Samatha, yang berfokus pada perhatian terpusat, dan Vipassana, yang melibatkan pemantauan terbuka. Analisis sinyal otak menggunakan MEG, yang mengukur medan magnet dari aktivitas listrik otak, menunjukkan bahwa kedua gaya meditasi tersebut menghasilkan konfigurasi neural yang berbeda, selaras dengan pengalaman subjektif masing-masing teknik.

Secara umum, kedua teknik tersebut meningkatkan kompleksitas sinyal otak dibandingkan dengan kondisi istirahat biasa. Perbedaan signifikan terdeteksi dalam pola osilasi; salah satu temuan kunci adalah penurunan signifikan pada gelombang gamma (30-100 Hz), frekuensi otak yang sering diasosiasikan dengan pemrosesan stimulus eksternal dan tingkat kesadaran tinggi. Penurunan aktivitas gamma ini kontras dengan temuan lain yang menunjukkan lonjakan gamma pada biksu yang melaporkan keadaan sukacita ekstrem, menyoroti variasi respons neural berdasarkan jenis praktik.

Sementara meditasi Samatha cenderung menekan gelombang beta, yang penting untuk kesadaran saat ini, untuk mencapai keheningan pikiran, teknik ini terbukti menciptakan kondisi neural yang sangat stabil dan terfokus. Sebaliknya, Vipassana mengarahkan aktivitas otak lebih dekat ke kondisi kritisitas otak, yang dinilai sebagai titik optimal untuk fleksibilitas kognitif dan kemampuan otak untuk mentransmisikan data secara andal sambil tetap adaptif terhadap situasi baru. Penelitian lain mendukung gagasan bahwa meditasi mengubah arsitektur otak secara fisik, dikaitkan dengan peningkatan ketebalan korteks prefrontal, area yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, serta pengecilan amigdala, pusat respons stres.

Temuan ini menyiratkan bahwa meditasi adalah proses aktif yang merekonfigurasi dinamika otak menjadi keadaan yang kaya informasi dan sangat adaptif. Dengan melatih pikiran untuk tetap berada di momen sekarang, seperti yang ditekankan oleh profesor psikologi Universitas Yale, Laurie Santos, meditasi dapat secara signifikan mengurangi aktivasi area otak yang menyebabkan pikiran mengembara, yang mana hal ini berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan umum. Pemahaman ilmiah yang terus berkembang ini memposisikan meditasi sebagai alat validasi neurosains untuk meningkatkan kapasitas kognitif dan ketahanan mental dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.

18 Tampilan

Sumber-sumber

  • MARCA

  • El Confidencial

  • El Imparcial

  • El Tiempo

  • El Tiempo

  • Anton Paz

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.