Membangun Harga Diri Internal Melampaui Ketergantungan Validasi Eksternal

Diedit oleh: Olga Samsonova

Perspektif psikologi modern merevisi pemahaman mengenai perilaku mencari kepastian diri, tidak lagi semata-mata dilihat sebagai manifestasi kebutuhan akan perhatian. Perilaku ini kini dipahami sebagai mekanisme regulasi emosi sementara yang secara paradoks justru menguatkan ketergantungan pada pihak luar. Ketergantungan pada validasi eksternal, meskipun memberikan kelegaan yang singkat, membuat harga diri seseorang tetap rapuh dan sangat bergantung pada persetujuan orang lain. Kondisi ini menciptakan siklus di mana nilai diri selalu dipertanyakan tanpa adanya penegasan dari luar, sebuah fenomena yang berpotensi merusak kesejahteraan emosional secara berkelanjutan.

Penelitian ilmiah telah menggarisbawahi lima metodologi yang berlandaskan bukti untuk menumbuhkan harga diri internal yang lebih tangguh. Metodologi ini berfokus pada penguatan kepercayaan diri pribadi dan peningkatan toleransi terhadap ketidaknyamanan emosional. Salah satu pilar utama adalah membangun keandalan diri melalui pemenuhan komitmen-komitmen kecil yang terukur. Tindakan nyata ini memberikan bukti konkret mengenai konsistensi dan reliabilitas diri sendiri, berfungsi sebagai fondasi internal yang tidak mudah goyah oleh opini eksternal.

Pengembangan harga diri yang substansial juga memerlukan latihan ketahanan emosional, yaitu kemampuan untuk menoleransi ambiguitas dan ketidakpastian tanpa segera mencari klarifikasi atau penegasan dari luar. Strategi ini selaras dengan penggantian validasi eksternal dengan praktik pengakuan diri yang didasari oleh welas asih atau self-compassion, yang terbukti mampu mengaktifkan sistem pengasuhan internal dalam diri seseorang. Kemampuan untuk menghibur diri sendiri saat menghadapi kesedihan atau kekecewaan merupakan indikator penting dari regulasi emosi yang matang.

Aspek penting lainnya adalah memisahkan nilai personal dari hasil sosial melalui penerapan fleksibilitas kognitif. Pendekatan ini melibatkan eksplorasi aktif terhadap berbagai penjelasan alternatif untuk interaksi yang ambigu, alih-alih langsung mengasumsikan penilaian negatif. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip inti dari Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy atau ACT), sebuah pendekatan perilaku generasi ketiga yang dikembangkan sejak akhir abad ke-20. ACT berfokus pada peningkatan fleksibilitas psikologis dengan memupuk penerimaan terhadap pikiran dan emosi yang sulit.

Prinsip sentral dalam ACT adalah mengaitkan harga diri pada nilai-nilai inti dan tindakan yang disengaja, bukan pada reaksi atau penerimaan dari lingkungan sosial. Individu didorong untuk mengadopsi orientasi tujuan mastery approach, yang berorientasi pada peningkatan diri dan penggunaan strategi adaptif dalam mencapai tujuan. Ketika harga diri seseorang diukur berdasarkan kepatuhan terhadap prinsip internal dan tindakan yang selaras dengan nilai-nilai tersebut, kebutuhan akan konfirmasi eksternal secara bertahap akan menghilang, memungkinkan individu untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan terarah.

24 Tampilan

Sumber-sumber

  • Forbes

  • MindLAB Neuroscience

  • Forbes

  • ResearchGate

  • NovoPsych

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.