Inovasi Pemanfaatan Kulit Jeruk Menjadi Produk Bernilai Tambah dan Berkelanjutan

Diedit oleh: Olga Samsonova

Praktik kuliner kontemporer semakin mengadopsi prinsip keberlanjutan, dengan fokus pada pengolahan limbah kulit jeruk menjadi kudapan manisan yang unik, sejalan dengan filosofi memasak nol limbah. Proses transformasi ini menuntut ketelitian tinggi, terutama pada tahap awal perebusan berulang kali untuk menghilangkan senyawa pahit alami, yang menghasilkan tekstur akhir kenyal dan rasa manis yang diinginkan. Upaya ini merefleksikan pergeseran paradigma global menuju pengelolaan limbah organik yang lebih bertanggung jawab dalam sektor pangan.

Pengembangan modern dalam pemanfaatan kulit jeruk mencakup tahap akhir pencelupan manisan yang telah dikeringkan ke dalam cokelat hitam berkadar kakao tinggi. Inovasi rasa ini secara signifikan meningkatkan kandungan antioksidan produk akhir, mengingat kulit jeruk sendiri kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik. Data menunjukkan bahwa limbah kulit jeruk dapat menyumbang antara 40 hingga 50 persen dari total bobot buah jeruk, menjadikannya sumber daya signifikan untuk diolah menjadi pangan fungsional.

Fleksibilitas pemanfaatan limbah sitrus melampaui produk manisan; kulit jeruk olahan dapat diubah menjadi keripik renyah atau bubuk perasa bernilai jual tinggi untuk aplikasi dalam produk roti dan minuman. Di tingkat masyarakat, inisiatif seperti yang terjadi di Desa Jeruk Manis, di mana pemanfaatan kulit jeruk bali menjadi manisan telah terbukti meningkatkan pendapatan UMKM dan mendukung ekonomi sirkular. Secara kontekstual, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia masih substansial, dengan sekitar 40 persen dari lebih dari 36 juta ton sampah nasional per tahun pada 2023 berasal dari sisa makanan dan limbah organik.

Pemanfaatan kulit jeruk, yang merupakan hasil sampingan dari industri pengolahan jus atau selai, menawarkan solusi konkret untuk masalah lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-12 mengenai pemanfaatan sumber daya yang efisien. Sebagai contoh kewirausahaan lokal, seorang mahasiswa dari Magetan berhasil mengembangkan formula untuk manisan, dodol, sirup, dan selai dari kulit jeruk pamelo, yang membawanya meraih penghargaan Wirausaha Pemuda Pemula dari Kemenpora RI pada tahun 2023.

Selain diversifikasi pangan, potensi kulit jeruk juga dieksplorasi untuk aplikasi industri. Kulit jeruk siam di Banyuwangi, yang produksi rata-ratanya mencapai 65.145,16 ton, sedang diteliti potensinya untuk diubah menjadi bioadsorben guna mengurangi kadar logam berat seperti timbal (Pb) dan krom (Cr) dalam limbah industri batik. Kandungan nutrisi tersembunyi dalam kulit jeruk, termasuk konsentrasi vitamin, serat, dan antioksidan yang lebih tinggi daripada daging buah, mendukung pendekatan holistik ini untuk memaksimalkan nilai jual komoditas jeruk secara keseluruhan.

7 Tampilan

Sumber-sumber

  • Liputan 6

  • Liputan6.com

  • Mureks

  • Liputan6.com

  • Radar Malang

  • Batam Pos

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.