Pergeseran Fokus Krononutrisi: Penekanan Baru pada Waktu Santapan Pagi
Diedit oleh: Olga Samsonova
Ilmu pengetahuan kontemporer semakin menegaskan peran fundamental waktu santapan pertama hari itu dalam menentukan kesehatan metabolik dan potensi umur panjang, sebuah pergeseran fokus dari pandangan sebelumnya yang hanya menyoroti makan malam sebagai penentu utama.
Penelitian longitudinal yang melacak hampir 3.000 lansia di Inggris antara tahun 1983 hingga 2017 mengindikasikan korelasi antara waktu sarapan dan kelangsungan hidup. Kelompok yang rutin sarapan lebih awal menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dalam periode 10 tahun, mencapai 89,5%, dibandingkan dengan 86,7% pada kelompok yang menunda sarapan. Bidang krononutrisi, studi mengenai waktu asupan makanan, mengaitkan kebiasaan makan yang terlambat dengan kesehatan metabolik yang kurang optimal dan peningkatan risiko penyakit kronis seperti gangguan jantung dan diabetes.
Para ahli gizi dan kardiologi kini menganjurkan protokol puasa intermiten, seperti pembagian waktu 12:12, yang bertujuan menyelaraskan waktu makan pertama dengan ritme sirkadian alami tubuh. Penyelarasan ini secara biologis mendukung proses pembakaran lemak dibandingkan penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi utama, sebuah mekanisme yang juga didukung oleh temuan bahwa puasa intermiten dapat meningkatkan fleksibilitas metabolik dan sensitivitas insulin. Secara spesifik, mengonsumsi santapan pagi sebelum pukul 09.00 pagi dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, dengan waktu ideal sering disarankan berada di antara pukul 06.00 hingga 09.00 pagi.
Sebaliknya, pola sarapan Barat yang didominasi karbohidrat olahan terbukti memicu lonjakan insulin yang tidak diinginkan, sebuah kondisi yang mengkhawatirkan bagi proses penuaan sehat, terutama pada populasi wanita. Studi menunjukkan bahwa wanita dengan kelebihan berat badan yang melewatkan sarapan memiliki kadar insulin dan gula darah yang lebih tinggi setelah makan siang dibandingkan saat mereka sarapan. Lebih lanjut, melewatkan sarapan empat hingga lima kali seminggu dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 55 persen berdasarkan tinjauan enam studi terpisah.
Tren nutrisi masa depan menunjukkan pergeseran menuju pilihan sarapan yang lebih gurih, kaya protein, dan tinggi serat, sebuah pola yang mencerminkan pola makan para centenarian di wilayah Zona Biru. Di Zona Biru, wilayah dengan harapan hidup tinggi, asupan kalori harian sebagian besar dikonsumsi sebelum tengah hari, dengan menu sarapan yang umumnya mencakup protein, karbohidrat kompleks, dan lemak nabati. Konsumsi protein yang cukup, seperti dari telur rebus atau yogurt Yunani, serta serat tinggi dari buah beri atau sayuran, terbukti memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menstabilkan kadar gula darah, sebuah strategi penting untuk kesehatan jantung dan manajemen berat badan. Perubahan pola makan ini menegaskan bahwa konsistensi waktu makan, selaras dengan jam biologis, sama pentingnya dengan komposisi nutrisi makanan itu sendiri dalam mendukung kesehatan jangka panjang.
9 Tampilan
Sumber-sumber
El Confidencial
Cuerpomente
PA Media
Diario AS
Arenas Multimedia
elEconomista.es
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
