Konsistensi dan Motivasi Intrinsik Kunci Pencapaian Tujuan Berkelanjutan
Diedit oleh: Olga Samsonova
Antusiasme awal yang sering menyertai penetapan resolusi awal tahun cenderung mengalami penurunan signifikan. Fenomena psikologis ini sering disamakan dengan memulai proyek konstruksi besar, di mana euforia awal dengan cepat digantikan oleh kesulitan praktis dan tekanan yang muncul. Kegagalan dalam memenuhi rencana yang terlalu ambisius sering kali berdampak negatif pada kepercayaan diri individu, di mana kegagalan tersebut diinternalisasi sebagai defisit disiplin pribadi, bukan sebagai kelemahan dalam desain rencana awal itu sendiri.
Perubahan jangka panjang yang benar-benar lestari bertumpu pada dua pilar fundamental: pengulangan yang konsisten, bahkan jika terlihat membosankan, dan identifikasi mendalam terhadap motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik, yang berasal dari dorongan internal seperti rasa ingin tahu, minat pribadi, atau kepuasan dalam proses itu sendiri, terbukti memiliki dampak yang lebih kuat dan jangka panjang dibandingkan motivasi ekstrinsik yang bergantung pada imbalan luar seperti nilai atau pujian. Perubahan perilaku yang berhasil memerlukan jawaban atas pertanyaan inti: "Mengapa saya menginginkan perubahan ini?" Dorongan internal ini memberikan ketahanan yang diperlukan untuk menghadapi rintangan tak terhindarkan dalam hidup.
Menurut teori Self-Determination Theory (SDT) oleh Deci dan Ryan, motivasi intrinsik terwujud ketika kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan terpenuhi, yang secara signifikan memengaruhi kinerja dan ketekunan. Dalam konteks perubahan perilaku yang lebih luas, strategi edukasi yang efektif tidak hanya berfokus pada pengetahuan tetapi juga pada lingkungan pendukung dan motivasi berkelanjutan. Paradigma saat ini memandang perubahan berkelanjutan sebagai sebuah maraton yang memerlukan langkah-langkah kecil yang stabil dan disertai dengan welas asih terhadap diri sendiri, bukan lagi sebagai lari cepat yang menuntut pengorbanan total.
Psikolog klinis seperti Terri Bly dari Ellie Mental Health di Amerika Serikat menggarisbawahi bahwa momen pergantian tahun berfungsi sebagai sinyal psikologis untuk awal yang baru, namun optimisme ini sering kali gagal karena kurangnya perencanaan yang spesifik. Betsy Kurniawati Witarsa, seorang psikolog, menyoroti bahwa tujuan yang tidak terukur atau terlalu samar akan sulit dicapai karena kurangnya tolok ukur yang jelas sejak awal. Sebagai contoh konkret, daripada menetapkan tujuan yang kabur, rencana yang lebih efektif adalah menetapkan jadwal spesifik, misalnya, "Saya akan jogging selama 15 menit setiap pagi pada hari Senin, Rabu, dan Jumat." Tradisi penetapan resolusi ini sendiri berakar sejak zaman Babilonia kuno, menunjukkan bahwa tekanan sosial untuk melakukan perubahan di awal tahun adalah norma yang mengakar kuat.
Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan keberlanjutan, penekanan harus dialihkan dari hasil akhir yang besar ke proses harian yang kecil dan didorong oleh alasan internal yang kuat. Mengidentifikasi 'mengapa' yang mendalam memberikan daya tahan yang melampaui semangat awal yang bersifat sementara. Perubahan perilaku yang sukses memerlukan pemahaman bahwa keberhasilan inisiatif sangat dipengaruhi oleh mekanisme motivasi dan penghargaan internal yang terintegrasi dengan baik dalam sistem perilaku individu. Konsistensi yang didukung oleh identitas diri jauh lebih unggul daripada upaya sporadis yang didorong oleh tekanan eksternal.
15 Tampilan
Sumber-sumber
Republica
Psychology Today
Forbes
Harvard Business Review
National Center for Biotechnology Information
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
