Empat Langkah Mengubah Perbandingan Media Sosial Menjadi Dorongan Perbaikan Diri
Diedit oleh: Olga Samsonova
Fenomena perbandingan sosial yang dipicu oleh konten media sosial yang teridealisasi menghadirkan tantangan psikologis kontemporer yang dapat diatasi melalui kerangka kerja terstruktur. Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa perasaan inferioritas yang timbul dari paparan konten yang dikurasi secara berlebihan dapat dialihkan menjadi energi positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini menekankan pergeseran fokus dari hasil akhir yang dipoles orang lain menuju proses otentik dalam kehidupan seseorang.
Kandidat ilmu psikologi, Elena Shpagina, menyoroti bahwa puncak perbandingan sosial ini sering terjadi pada periode tertentu, seperti menjelang Hari Valentine. Pada masa tersebut, idealisasi hubungan yang ditampilkan secara digital sangat menonjol, berbenturan dengan kompleksitas dan realitas hubungan dalam kehidupan nyata. Tekanan validasi digital ini, yang juga dikaitkan dengan perayaan tertentu, dapat memicu kecemasan sosial dan penurunan harga diri, terutama pada generasi muda yang rentan terhadap FOMO atau Fear of Missing Out.
Langkah pertama dalam proses empat tahap ini adalah Mengenali Proses di Atas Hasil Akhir. Individu perlu menyadari bahwa yang disaksikan di linimasa adalah hasil akhir yang telah disaring dan dipoles, bukan keseluruhan perjalanan yang mencakup perjuangan dan hari-hari biasa. Dengan memegang teguh kesadaran ini, pengguna dapat meredam dorongan untuk membandingkan diri secara tidak utuh, karena konteks yang ditampilkan di layar tidak pernah lengkap.
Tahap kedua berfokus pada Detoksifikasi Digital yang sadar. Hal ini melibatkan pembatasan paparan terhadap akun-akun yang secara konsisten hanya menampilkan fasad ideal. Penggantian aktivitas pasif menggulir layar dengan keterlibatan aktif yang berpusat pada diri sendiri sangat dianjurkan. Studi mengindikasikan bahwa semakin sering seseorang membandingkan diri di media sosial, semakin rendah kebahagiaan yang dirasakan, sehingga kurasi konten menjadi krusial untuk menjaga energi positif.
Langkah ketiga adalah Membingkai Ulang Energi Perbandingan secara konstruktif. Daripada terpaku pada objek superfisial dari rasa iri, seseorang didorong untuk mengidentifikasi kebutuhan mendasar di baliknya, seperti kebutuhan akan koneksi atau pengakuan. Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial ke atas dapat menjadi motivasi kuat untuk peningkatan diri jika energi tersebut diarahkan dengan benar, berbeda dengan perbandingan ke bawah yang bisa memicu kepuasan diri yang stagnan.
Terakhir, tahap keempat adalah Bersyukur atas Kehidupan Biasa. Ini melibatkan penyusunan daftar momen dalam hubungan atau kehidupan pribadi yang memiliki nilai intrinsik, meskipun tidak memiliki daya tarik untuk diunggah di media sosial. Pendekatan ini mengubah energi perbandingan, yang seringkali negatif, menjadi kompas yang menunjuk pada area pengembangan diri yang spesifik dan dapat ditindaklanjuti dalam ranah kehidupan nyata. Kerangka kerja ini menata ulang perbandingan sosial dari sumber emosi negatif menjadi katalisator untuk pertumbuhan pribadi yang otentik.
6 Tampilan
Sumber-sumber
Oxu.Az
Газета.Ru
Top.Mail.Ru
PsyJournals.ru
ВК Пресс» Краснодар
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
