Nutrisi Telur dan Inovasi Pengolahan dalam Perspektif Diet Modern

Diedit oleh: Olga Samsonova

Telur terus diakui sebagai sumber nutrisi padat, menyediakan protein berkualitas tinggi yang esensial untuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan tubuh. Selain protein, telur merupakan sumber mikronutrien penting seperti kolin, yang mendukung berbagai tahap metabolisme, serta lutein dan zeaxanthin, karotenoid yang dikaitkan dengan pengurangan inflamasi. Rata-rata satu butir telur mengandung sekitar 6 gram protein, 5 gram lemak, dan antara 160 hingga 210 miligram kolesterol, sekaligus menjadi pemasok vitamin A, D, dan B12 yang baik.

Panduan diet kontemporer menunjukkan pergeseran dukungan terhadap konsumsi telur, didorong oleh temuan ilmiah terbaru. Penelitian, termasuk studi yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition, mengindikasikan bahwa kolesterol diet memiliki dampak minimal terhadap kadar kolesterol darah pada mayoritas individu sehat. Beberapa riset bahkan menunjukkan bahwa lemak jenuh, bukan kolesterol dari telur, merupakan pemicu utama peningkatan kolesterol jahat (LDL). Sebagai respons, Pedoman Gizi 2015–2020 untuk Masyarakat Amerika Serikat telah menghapus batasan ketat 300 miligram kolesterol per hari, meskipun pembatasan asupan keseluruhan tetap disarankan.

Kekhawatiran historis mengenai hubungan antara kolesterol telur dan penyakit jantung kini ditinjau ulang secara ilmiah, dengan penelitian memisahkan efek kolesterol dari lemak jenuh. Studi pada 48 peserta, misalnya, mendapati bahwa diet tinggi kolesterol namun rendah lemak jenuh, yang mencakup dua telur per hari, justru menghasilkan penurunan kadar kolesterol LDL. Bagi individu yang telah memiliki penyakit kardiovaskular, American Heart Association (AHA) merekomendasikan pembatasan hingga satu butir sehari atau tiga butir per minggu, sambil tetap mengakui nilai nutrisi telur.

Inovasi dalam metode pengolahan telur berfokus pada efisiensi dan tekstur dalam ranah kuliner. Metode tradisional seperti mengukus, yang menghasilkan tekstur lembut dan gurih, tetap menjadi pilihan utama untuk mempertahankan senyawa kuning telur tertentu. Sementara itu, perangkat seperti alat pemasak telur khusus microwave menawarkan kemudahan dan kecepatan untuk gaya hidup yang padat waktu. Memasak telur di microwave dapat diselesaikan dalam hitungan menit, berbeda dengan telur kukus tradisional yang memerlukan waktu sekitar 10 menit setelah air mendidih.

Perbedaan antara metode memasak cepat dan konvensional menyoroti dinamika antara kepraktisan modern dan retensi nutrisi optimal. Inovasi ini mencerminkan adaptasi gaya hidup, di mana peralatan seperti microwave menjadi solusi memasak yang efisien dan fungsional. Secara keseluruhan, telur mempertahankan posisinya sebagai komponen diet bernilai tinggi, didukung oleh data ilmiah yang menekankan pentingnya jenis lemak yang dikonsumsi daripada sekadar jumlah kolesterol.

11 Tampilan

Sumber-sumber

  • The TOC

  • MDPI

  • Hendrix Genetics BV

  • VnExpress International

  • Sci.News

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.