Mekanisme Otonom di Balik Dengkuran Kucing Terungkap Melalui Temuan Anatomi Baru
Diedit oleh: Olga Samsonova
Dengkuran kucing, yang secara tradisional diasosiasikan dengan ekspresi kasih sayang, kini terbukti memiliki mekanisme yang secara signifikan bersifat otonom, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah seperti Current Biology. Studi ini menantang pandangan sebelumnya yang mengimplikasikan perlunya input saraf berkelanjutan dari otak untuk mempertahankan ritme dengkuran yang khas tersebut.
Para ilmuwan, termasuk tim dari Universitas Wina, berhasil mengidentifikasi struktur anatomi spesifik di laring kucing yang mereka sebut sebagai "bantalan dengkuran" (purring pads). Struktur ini tertanam di dalam lipatan vokal dan tersusun dari serat kolagen dan elastin, yang secara substansial meningkatkan kepadatan lipatan vokal kucing. Peningkatan kepadatan ini memfasilitasi getaran berkelanjutan pada rentang frekuensi rendah, yakni antara 25 hingga 30 Hertz (Hz), dengan kebutuhan usaha otot yang minimal dan berkelanjutan, sebuah fenomena yang digambarkan sebagai perilaku aerodinamis pasif yang menopang diri sendiri berdasarkan prinsip myoelastic-aerodynamic (MEAD).
Meskipun otak memberikan sinyal awal untuk memulai proses dengkuran, penemuan ini menegaskan bahwa anatomi laringlah yang kemudian secara mekanis mempertahankan ritme tersebut. Penemuan ini signifikan karena menunjukkan kemiripan mekanisme penghasil suara dengkuran kucing dengan suara "vocal fry" pada manusia, yang beroperasi secara mandiri setelah inisiasi. Dalam eksperimen terkontrol, peneliti dari Universitas Wina, yang dipimpin oleh Christian T. Herbst, mendemonstrasikan bahwa laring kucing yang diekstraksi dari delapan kucing domestik dapat menghasilkan nada sangat rendah pada frekuensi dengkuran tanpa memerlukan input saraf siklik atau kontraksi otot berulang, dengan mengalirkan udara hangat dan lembap melaluinya.
Studi ini tidak meniadakan sepenuhnya teori kontraksi otot sebelumnya, namun secara tegas membuka jalan bagi penelitian baru mengenai mekanisme vokalisasi felidae. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan pada tahun 2026 mengindikasikan bahwa dengkuran berfungsi sebagai sidik jari sonik yang khas bagi setiap individu kucing. Frekuensi dengkuran yang rendah, berkisar antara 25 hingga 150 Hz, diketahui memiliki manfaat terapeutik, termasuk potensi untuk mempercepat penyembuhan tulang dan otot pada kucing itu sendiri.
Konteks yang lebih luas menempatkan dengkuran sebagai alat komunikasi penting, terutama antara induk dan anak kucing yang baru lahir yang belum memiliki penglihatan penuh. Selain itu, penelitian terpisah yang dipublikasikan di PLoS One oleh Kyoto University menyoroti aspek genetik, menemukan korelasi antara tipe gen reseptor androgen pendek dan frekuensi dengkuran yang ditujukan kepada pendamping manusianya. Pemahaman baru mengenai mekanisme otonom ini memberikan perspektif yang lebih kaya mengenai kompleksitas vokalisasi kucing, melampaui interpretasi emosional sederhana.
4 Tampilan
Sumber-sumber
Pravda
Olhar Digital - O futuro passa primeiro aqui
Правда.Ру
Правда.Ру
Правда.Ру
Правда.Ру
Правда.Ру
Scientific Reports
Current Biology
Smithsonian Magazine
Canaltech
PLOS ONE
Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



