Persepsi Usia Subjektif Sebagai Prediktor Signifikan Panjang Umur dan Kesehatan
Diedit oleh: Olga Samsonova
Temuan ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa persepsi seseorang mengenai usianya sendiri, atau yang dikenal sebagai 'usia subjektif', memberikan dampak terukur yang substansial terhadap kesehatan fisik dan potensi umur panjang seseorang. Metrik usia subjektif ini melampaui usia kronologis semata dan merupakan penanda andal dari proses penuaan biologis. Individu yang secara konsisten merasa lebih muda dari usia sebenarnya cenderung mengadopsi perilaku hidup yang lebih sehat, yang pada akhirnya meningkatkan ketahanan mereka terhadap kemunduran biologis seiring waktu.
Sebuah studi penting yang menganalisis data dari 6.489 pria dan wanita dengan usia rata-rata 65,8 tahun mengungkapkan korelasi yang mencolok antara usia subjektif dan risiko mortalitas. Hasil penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine, menunjukkan bahwa partisipan yang merasa setidaknya tiga tahun lebih muda dari usia kronologis mereka hampir memotong separuh risiko kematian dibandingkan dengan mereka yang merasa seusia atau lebih tua. Bahkan setelah menyesuaikan faktor-faktor seperti disabilitas dan kondisi kesehatan umum, mereka yang merasa lebih tua masih menghadapi risiko mortalitas 41% lebih tinggi. Data ini menggarisbawahi bahwa pandangan internal tentang penuaan memiliki kekuatan prediktif yang signifikan terhadap hasil kesehatan jangka panjang.
Perasaan muda secara subjektif ini secara empiris terhubung dengan serangkaian hasil kesehatan positif yang luas, termasuk fungsi kognitif yang lebih baik, penurunan risiko penyakit kardiovaskular, dan tingkat kerapuhan yang lebih rendah. Selain itu, penelitian dari Universitas Nasional Seoul menunjukkan bahwa mereka yang merasa lebih muda memiliki volume materi abu-abu yang lebih tinggi di area otak yang mengontrol kemampuan berbahasa, bahkan setelah memperhitungkan kepribadian dan fungsi kognitif. Persepsi ini mendorong individu untuk lebih proaktif dalam menjaga diri, seperti meningkatkan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, dan lebih terbuka untuk mengeksplorasi pengalaman baru, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan vitalitas.
Para ahli dalam bidang gerontologi menyarankan bahwa mempertahankan usia subjektif yang lebih muda bukanlah bentuk penyangkalan terhadap kenyataan usia, melainkan sebuah strategi kognitif yang disengaja untuk menumbuhkan ketahanan seumur hidup. Rasa kendali diri yang lebih tinggi sering kali menyertai perasaan lebih muda; pada hari-hari ketika partisipan survei merasa lebih mampu mengendalikan kehidupan mereka, mereka cenderung merasa lebih muda, yang kemudian memotivasi pilihan gaya hidup sehat seperti berolahraga atau memilih nutrisi yang lebih baik. Lebih lanjut, usia subjektif yang lebih rendah juga dikaitkan dengan tingkat stres harian yang lebih rendah dan kepuasan hidup yang lebih tinggi, menunjukkan hubungan timbal balik antara kondisi mental dan perilaku kesehatan.
Implikasi dari temuan ini sangat penting bagi intervensi kesehatan masyarakat. Penulis studi menyarankan bahwa individu yang melaporkan merasa lebih tua dari usia sebenarnya dapat menjadi target yang efektif untuk pesan-pesan kesehatan yang mendorong sikap positif terhadap penuaan dan perilaku kesehatan yang lebih baik. Mengingat bahwa usia subjektif berpotensi untuk diubah, intervensi yang berfokus pada pembentukan pola pikir yang lebih muda dapat menjadi jalur yang menjanjikan untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia sehat. Fokus pada interpretasi internal seseorang terhadap proses penuaan menawarkan perspektif yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan secara holistik.
11 Tampilan
Sumber-sumber
Bona Magazine
Dayna Touron - Google Scholar
UCL News
New Zealand Seniors
Nutritional Outlook
University of Exeter
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
