stres
Stres Antisipatif Akibat Ketidakpastian Lebih Membebani Otak daripada Realitas
Diedit oleh: Elena HealthEnergy
Stres yang timbul saat mengantisipasi hasil negatif, yang dikenal sebagai stres antisipatif, seringkali memiliki intensitas emosional yang jauh lebih besar dibandingkan ketika peristiwa aktual tersebut benar-benar terjadi. Memahami secara mendalam mekanisme psikologis di balik antisipasi stres ini merupakan fondasi krusial dalam merancang strategi kesehatan mental yang lebih efektif untuk mengelola ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Otak manusia secara inheren mendambakan kepastian, bahkan jika hasil yang pasti itu negatif, karena ketiadaan kejelasan memicu hiperaktivasi sistem limbik, khususnya amigdala, menurut riset ilmu saraf.
Amigdala, pusat pemrosesan emosi yang terlibat dalam respons rasa takut, menjadi terlalu aktif, memicu gelombang emosi cemas sebagai persiapan terhadap potensi bahaya yang mungkin terjadi. Aktivasi berlebihan ini secara fisiologis meningkatkan kadar hormon kortisol, yang berdampak pada penurunan kinerja kognitif secara keseluruhan. Seorang ahli ilmu saraf kognitif menyatakan bahwa ketidakpastian diperlakukan oleh otak layaknya ancaman fisik, sehingga mengaktifkan mode lawan atau lari sebelum insiden nyata terjadi. Dalam kondisi ketidakpastian, individu cenderung melakukan prospeksi, yakni menyimulasikan setiap kemungkinan skenario masa depan yang mungkin terjadi.
Ketika prospeksi dipasangkan dengan ekspektasi negatif, ia memperkuat tekanan psikologis dengan memicu reaksi biokimia, termasuk pelepasan hormon stres seperti kortisol. Dr. Lena Wallace, seorang Psikolog Klinis, menggarisbawahi bahwa pengulangan skenario dalam pikiran seringkali hanya meningkatkan kecemasan, terutama ketika fokus tertuju pada versi terburuk dari hasil yang mungkin terjadi. Gangguan pada korteks prefrontal, area otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, juga dapat terjadi akibat stres kronis, yang selanjutnya mengganggu kemampuan kognitif.
Menghadapi berita buruk yang sudah diketahui seringkali memberikan kelegaan karena memungkinkan dimulainya proses penanggulangan atau pemecahan masalah, sementara masa menunggu hanya menyisakan sedikit ruang untuk tindakan atau kontrol. Secara neurologis, tindakan terasa lebih memuaskan karena memberikan otak persepsi tentang agensi atau kendali, yang membantu menghilangkan kabut mental yang disebabkan oleh stres antisipatif. Dr. Colin Andrews, seorang Behavioral Scientist, menjelaskan bahwa perasaan membaik muncul ketika ada sesuatu yang terjadi—bahkan jika itu adalah hal buruk—karena pemrosesan realitas memungkinkan penemuan kejernihan dan penutupan.
Ketegangan akibat antisipasi yang berkepanjangan memberikan beban fisik yang setara dengan stres nyata, dengan kadar kortisol yang tinggi secara berkelanjutan dikaitkan dengan gangguan tidur, melemahnya respons imun, dan peningkatan peradangan sistemik. Internis Dr. Kim Setareh mengamati bahwa banyak pasien melaporkan merasa sakit secara fisik akibat periode menunggu yang panjang, meskipun pada akhirnya tidak ada masalah yang benar-benar terwujud. Kadar kortisol yang tidak terkendali juga dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar glukosa darah, berpotensi memicu diabetes, dan dalam kasus ekstrem, kondisi kelebihan kortisol disebut Sindrom Cushing.
Untuk meminimalkan dampak dari stres antisipatif, teknik-teknik yang diterapkan berfokus pada pengembalian perhatian ke momen kini, seperti melalui praktik mindfulness atau meditasi. Individu dianjurkan untuk membatasi simulasi mental dan menyusun rencana aksi untuk elemen-elemen yang dapat dikendalikan, sembari menerima apa yang berada di luar kendali mereka. Praktik welas asih (self-compassion) juga sangat penting, karena mengakui bahwa masa menunggu itu sulit dapat mengurangi intensitas emosional dan mencegah kekhawatiran lebih lanjut. Nilai dari pemahaman ini terletak pada kesadaran bahwa penderitaan selama masa penantian adalah realitas biologis, dan dengan menguasai kesadaran emosional, seseorang dapat mengurangi beban psikologis yang ditimbulkan oleh ketidakpastian.
Sumber-sumber
smithamevents.com.au
Unibo Magazine
Why Waiting Feels Worse Than the Problem: The Key Difference Between Anticipation Stress and Real Stress
Futura
MDPI
Association for Contextual Behavioral Science