Keterkaitan Trauma Masa Kecil dengan Disregulasi Emosi dan Pola Kelekatan Dewasa

Diedit oleh: Elena HealthEnergy

Trauma masa kecil

Memahami bagaimana kesulitan hidup di masa awal membentuk arsitektur pikiran orang dewasa menjadi kunci utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis di tengah masyarakat. Fokus ilmiah terkini semakin menguatkan bahwa trauma masa kanak-kanak, yang didefinisikan sebagai pengalaman yang melampaui kapasitas sumber daya koping yang tersedia, meninggalkan jejak permanen pada lintasan perkembangan psikologis seseorang. Pengalaman traumatis, seperti kekerasan fisik, emosional, atau seksual, serta penelantaran, telah terbukti meningkatkan risiko gangguan mental yang dapat berujung pada perilaku merugikan diri sendiri di usia dewasa muda.

Peristiwa traumatis dapat memaksa sistem saraf untuk menetap dalam kondisi kewaspadaan konstan atau mengalami pemutusan emosional, yang kemudian mengkristal menjadi pola perilaku dewasa yang kaku. Secara neurobiologis, trauma masa kecil terbukti memicu perubahan struktural dan fungsional pada area otak krusial seperti amigdala dan hipokampus, yang keduanya berperan sentral dalam respons stres. Amigdala, yang merupakan bagian dari sistem limbik, berfungsi mengatur emosi utama seperti rasa takut dan memproses informasi ancaman untuk memicu respons 'lawan atau lari'. Studi pencitraan otak, seperti fMRI, mengindikasikan peningkatan respons pada amigdala dan penurunan volume hipokampus pada penderita Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD) yang berkorelasi dengan tingkat keparahan gejala.

Salah satu konsekuensi mendasar dari trauma awal adalah dampaknya pada pola kelekatan; pengasuhan yang tidak konsisten atau mengancam dari figur primer akan menghasilkan gaya kelekatan yang tidak aman pada masa dewasa. Individu dengan kelekatan tidak aman cenderung kesulitan membentuk ikatan yang stabil dengan pasangan di kemudian hari, karena mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan dan tidak dapat dipercaya. Kelekatan orang dewasa yang ditandai dengan kenyamanan dalam keintiman dan tidak adanya kekhawatiran ditinggalkan berakar pada kepuasan terhadap pengasuh di masa kecil, yang memberikan dampak positif pada hubungan interpersonal dewasa.

Psikologi kontemporer kini memandang banyak gejala umum orang dewasa, seperti kecemasan atau ketergantungan, sebagai strategi adaptif yang dipelajari untuk mengelola tekanan internal yang berakar pada trauma. Psikolog Silvia Severino menyoroti pada tahun 2025 beberapa sikap dewasa spesifik yang terkait dengan trauma masa kecil yang belum terselesaikan, sering kali berkaitan dengan perasaan yang divalidasi secara tidak benar. Sikap-sikap ini mencakup pembelian kompulsif untuk mengisi kekosongan emosional dan ketidakmampuan menetapkan batasan diri, yang berasal dari lingkungan di mana ekspresi diri dihukum. Selain itu, Severino mengaitkan trauma dengan kepekaan berlebihan terhadap penolakan dan kecenderungan untuk meminta maaf secara berlebihan, yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan yang membuat individu merasa bersalah hanya karena keberadaannya.

Pengalaman traumatis juga memengaruhi perkembangan otak secara berbeda antara jenis kelamin. Sebuah studi dari Stanford University School of Medicine menemukan bahwa anak laki-laki dengan trauma memiliki volume dan luas permukaan insula yang lebih besar, sementara anak perempuan memiliki volume yang lebih kecil, di mana insula berperan penting dalam regulasi emosi dan kesadaran. Meskipun demikian, otak mempertahankan plastisitas yang signifikan, yang berarti pendekatan terapeutik yang berfokus pada trauma dan regulasi emosi menyediakan jalan untuk penyembuhan dan rekonstruksi narasi internal. Pengakuan terhadap akar neurologis dan relasional dari trauma memungkinkan pendekatan kesehatan mental yang lebih berempati dan tidak mempatologisasi tantangan emosional yang dihadapi orang dewasa.

Pemahaman ini mendukung terapi yang terarah untuk membangun sumber daya internal dan memperbaiki pola relasional yang terbentuk di masa kanak-kanak, menawarkan jalan untuk rekonstruksi narasi internal yang lebih adaptif.

22 Tampilan

Sumber-sumber

  • The Wall Street Journal

  • Diario de Sevilla

  • BMJ

  • The Guardian

  • ADDA

  • CHADD

  • Frontiers in Psychiatry

  • USC Today

  • ADDitude

  • World Population Review

  • Psychiatric Times

  • JEMS

  • European Psychiatry

  • PMC - PubMed Central

  • Epic Research

  • Teva Pharmaceuticals

  • ADDitude

  • USC Today

  • WebMD

  • Medical News Today

  • Psychology Today

  • La Vanguardia

  • Continental Hospitals

  • Adipa

  • La Razón

  • Red de Psicólogos

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.