Kesiapan Mental Kunci dalam Menghadapi Disrupsi dan Krisis Organisasi
Diedit oleh: Olga Samsonova
Menghadapi guncangan tak terduga, baik insiden fisik seperti kebakaran pabrik maupun keruntuhan pasar, secara inheren memicu respons biologis berupa penghentian kognitif akibat pelepasan kortisol dan kecemasan. Situasi genting semacam ini, yang dapat mengancam keberlangsungan hidup organisasi, menuntut lebih dari sekadar keberuntungan; kelangsungan hidup bergantung pada kesiapan mental yang telah diasah sebelumnya untuk memicu tindakan yang berlawanan dengan naluri awal untuk lumpuh.
Pengelolaan krisis secara umum mencakup tiga fase utama: Pra-Krisis, Respon Krisis, dan Pasca-Krisis. Fase Pra-Krisis menekankan identifikasi kelemahan organisasi dan pelatihan staf untuk menghadapi skenario tak terduga. Ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan merupakan keterampilan yang dapat dilatih untuk mengelola pikiran, meningkatkan kapasitas menghadapi persoalan yang timbul akibat krisis. Keterampilan ini melibatkan kemampuan untuk mengatur pikiran sendiri, melepaskan diri dari pola pikir yang tidak konstruktif, dan dengan cepat menyeimbangkan kembali orientasi mental. Kondisi pikiran yang tenang sangat penting untuk menjaga fokus positif, yang secara tidak langsung membangun ketahanan untuk menghindari stres berlebihan.
Dalam konteks organisasi, krisis sering kali melibatkan aspek psikologis dan emosional karyawan, yang memerlukan pendekatan holistik untuk penanganan. Prioritas utama dalam fase respons adalah menerapkan disiplin di atas reaksi impulsif dengan mengeksekusi daftar periksa operasional secara ketat, sebuah praktik yang meniru protokol keselamatan dalam dunia penerbangan. Tindakan ini bertujuan mencegah kerusakan lebih lanjut, berbeda dengan perbaikan yang didorong oleh emosi sesaat. Selain itu, penting untuk mengadopsi pola pikir ilmiah, seperti yang disarankan oleh tokoh seperti Adam Grant, dengan menumbuhkan rasa ingin tahu untuk mengevaluasi sumber daya yang tersisa dan merumuskan langkah logis berikutnya, memperlakukan kegagalan sebagai data yang dapat dianalisis.
Kepemimpinan adaptif terbukti secara signifikan memengaruhi dampak psikologis krisis dengan meningkatkan fleksibilitas psikologis tim melalui empati dan validasi emosional, bukan sekadar penyampaian informasi. Untuk mengurangi beban ketakutan yang melumpuhkan, disarankan untuk melakukan visualisasi Stoik terhadap skenario terburuk; proses ini mengonfirmasi bahwa kelangsungan hidup tetap mungkin, sehingga memberikan kebebasan untuk berupaya mencapai hasil yang lebih baik. Ketangguhan menuntut penolakan terhadap isolasi; membangun 'kabinet krisis' yang terdiri dari mentor atau kolega tepercaya mengubah masalah yang terasa sangat besar menjadi serangkaian tugas yang dapat dikelola. Koordinasi antar lembaga dan penyampaian informasi yang akurat menjadi faktor utama dalam manajemen krisis kesehatan, seperti pandemi Covid-19, untuk menjaga kepercayaan publik.
Manajemen krisis, sebagaimana diuraikan oleh International SOS, menekankan respons cepat dan terkoordinasi saat krisis terjadi untuk menjaga kelangsungan organisasi. Pengalaman krisis keuangan global, termasuk yang dialami Indonesia, menegaskan pentingnya Protokol Manajemen Krisis (PMK) sebagai sistem aturan prosedur yang harus dijalankan dalam situasi formal untuk penyelesaian krisis. Langkah pragmatis berikutnya adalah segera bergerak maju, meskipun hanya dengan tindakan minimal, untuk menciptakan momentum dan memulihkan kendali, karena kepercayaan diri muncul sebagai konsekuensi dari tindakan. Pada akhirnya, psikologi manusia dirancang untuk beradaptasi; kekuatan sejati terletak pada pilihan respons terhadap penderitaan, memungkinkan pembangunan kembali tujuan dari sisa-sisa kerugian yang dialami.
15 Tampilan
Sumber-sumber
El Confidencial
The Guardian
AECOC
The Guardian
Workday Blog
The Objective Media
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.
