CEO OpenAI Sam Altman Membatasi Paparan Anak Terhadap Layar dan AI

Diedit oleh: Olga Samsonova

Sam Altman, Chief Executive Officer (CEO) OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT, telah menyuarakan keprihatinannya mengenai paparan dini anak-anak terhadap perangkat digital. Bersama suaminya, Oliver Mulherin, Altman menyambut kelahiran putra mereka pada Februari 2025. Altman secara tegas menyatakan keinginannya agar putranya tidak menjadi "anak iPad," menekankan preferensi untuk menghabiskan masa awal kehidupan dengan aktivitas fisik dan interaksi langsung di luar ruangan, bukan terpapar intensif pada umpan algoritmik melalui gawai.

Sikap Altman mencerminkan pandangan beberapa tokoh terkemuka di industri teknologi. Pendiri Microsoft, Bill Gates, diketahui baru mengizinkan anak-anaknya memiliki telepon genggam pada usia 14 tahun. Demikian pula, CEO Google, Sundar Pichai, pernah mengungkapkan bahwa putranya belum memiliki telepon genggam saat berusia 11 tahun. Altman sendiri mengambil langkah untuk menunda pengenalan alat kecerdasan buatan (AI) canggih kepada putranya, dengan tujuan berada di batas akhir paparan yang dianggap wajar. Pengamatannya terhadap anak-anak yang lebih besar yang menunjukkan kesulitan saat perangkat mereka disita memperkuat tekadnya untuk membatasi paparan dini semacam itu pada anaknya.

Secara paradoks, meskipun menerapkan pembatasan ketat pada penggunaan langsung AI oleh anaknya, Altman mengakui pemanfaatan alat AI seperti ChatGPT sebagai panduan dalam pengasuhan. Ia menyebutkan penggunaan alat tersebut untuk memverifikasi tonggak perkembangan normal anak, termasuk menggunakan ChatGPT untuk memastikan bahwa bayinya yang berusia enam bulan belum merangkak adalah hal yang wajar setelah menerima masukan yang meresahkan dari orang tua lain. Altman, yang menyambut anak laki-lakinya melalui proses surrogacy pada Februari 2025, menyatakan bahwa ia tidak dapat membayangkan melalui masa-masa awal menjadi orang tua tanpa bantuan ChatGPT, namun ia menarik garis tegas antara pemanfaatan AI sebagai alat bantu orang tua dan paparan langsung anak terhadap teknologi tersebut.

Melihat ke depan, Altman menunjukkan antusiasme besar terhadap potensi transformatif AI dalam pendidikan, membayangkan penyediaan tutor pribadi yang sangat personal bagi setiap siswa. Pandangan ini sejalan dengan pernyataannya di Jakarta pada Juni 2023, di mana ia mendorong dunia pendidikan untuk merangkul alat AI, membandingkan penolakan saat ini dengan kekhawatiran historis atas kalkulator atau mesin pencari. Altman berpendapat bahwa memaksakan metode belajar kuno tanpa alat AI akan menjadi tidak lazim di masa depan, karena lulusan harus mampu bersaing menggunakan teknologi baru. Namun, ia menekankan bahwa implementasi AI yang kuat dalam pembelajaran harus dilakukan dengan tingkat tanggung jawab tinggi untuk mencegah konsekuensi negatif yang tidak diinginkan.

Kekhawatiran utama Altman lebih tertuju pada dampak umpan video pendek berbasis dopamin terhadap perkembangan otak anak, daripada kemampuan anak-anak muda untuk beradaptasi dengan teknologi baru itu sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, tokoh teknologi seperti Pichai dan Gates juga terlibat dalam diskusi mengenai regulasi dan dampak AI, dengan Pichai mendukung peran pemerintah dalam membangun perlindungan yang tepat. Altman dan para pemimpin industri lainnya, termasuk Mark Zuckerberg, telah membahas risiko eksistensial AI dalam pertemuan tertutup di Senat Amerika Serikat, di mana Altman menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah memastikan AI tidak menghancurkan dunia.

2 Tampilan

Sumber-sumber

  • The Times of India

  • Mashable India

  • The Times of India

  • Benzatine Infotech

  • iHeartMedia

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.